Sekitar 15 hektare karhutla berhasil dipadamkan selama musim kemarau 2026, sementara pemantauan di sekitar Bandara Supadio diperketat untuk mencegah asap mengganggu penerbangan.
KUBU RAYA – Manggala Agni Kalimantan VIII/Pontianak memperketat pemantauan dan mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan sekitar Bandara Supadio, untuk mencegah asap mengganggu aktivitas penerbangan. Selama satu hingga dua bulan terakhir pada musim kemarau 2026, sekitar 15 hektare lahan terbakar di Kabupaten Kubu Raya berhasil dipadamkan.
Kepala Daerah Operasi (Kadaops) Manggala Agni Kalimantan VIII/Pontianak Taufikurahman menyampaikan, sebagaimana dilansir Dio-tv, Minggu, (19/07/2026), “Perkiraan saat ini sekitar 15 hektare yang berhasil dipadamkan.”
Luas area terdampak tersebut masih berupa perkiraan sementara. Penghitungan secara terperinci dilakukan setelah api berhasil dikendalikan dan kondisi lapangan dinyatakan aman.
“Setelah pemadaman selesai baru dilakukan pengukuran menggunakan drone untuk memastikan luas arealnya.”
Menurut Taufikurahman, intensitas karhutla di Kubu Raya mulai meningkat seiring berlangsungnya musim kemarau. Kendati demikian, jumlah kejadian dan luas area terdampak masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Manggala Agni juga menggunakan peta desa rawan karhutla untuk memperkuat pengawasan terhadap kemunculan titik panas dan titik api. Perhatian khusus diarahkan ke wilayah yang berdekatan dengan Bandara Supadio karena asap kebakaran berpotensi mengurangi jarak pandang dan mengganggu penerbangan.
“Apabila ditemukan titik api, terutama di kawasan yang berdekatan dengan Bandara Supadio.”
“Tim langsung bergerak melakukan pemadaman agar asap tidak mengganggu aktivitas penerbangan,” ucapnya.
Pemadaman di kawasan gambut menjadi salah satu tantangan utama bagi petugas. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga membutuhkan penanganan lebih lama dibandingkan kebakaran di lahan mineral.
Untuk menjangkau sumber api di bawah permukaan, petugas menggunakan alat suntik gambut. Pasokan air dilakukan melalui sistem estafet dengan dukungan mobil tangki, tandon, dan pompa agar proses pemadaman tetap berjalan meski sumber air berada jauh dari lokasi kebakaran.
Penanganan karhutla dilaksanakan secara terpadu bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mencegah perluasan kebakaran, melindungi kualitas udara, serta menjaga kelancaran aktivitas penerbangan selama musim kemarau. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan