Perbedaan durasi pembatasan program nuklir Iran menjadi hambatan utama di tengah upaya meredakan konflik Timur Tengah.
WASHINGTON – Perbedaan tajam antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait durasi pembatasan program nuklir menjadi titik krusial dalam negosiasi penghentian konflik, di tengah upaya diplomasi yang juga menghasilkan kesepakatan gencatan senjata sementara antara Israel dan Lebanon.
AS dilaporkan mengajukan penangguhan program pengayaan uranium Iran selama 20 tahun. Namun, Teheran hanya bersedia menghentikan aktivitas nuklirnya selama lima tahun—usulan yang langsung ditolak oleh pejabat AS karena dinilai tidak cukup menjamin pencegahan pengembangan senjata nuklir.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa hak negara tersebut untuk memperkaya uranium adalah “tidak dapat disangkal”, meskipun membuka ruang negosiasi terkait tingkat pengayaan. Iran sebelumnya juga berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengklaim adanya perkembangan positif dalam negosiasi. “Mereka telah setuju untuk menyerahkan debu nuklir kepada kita,” katanya, merujuk pada persediaan uranium yang diperkaya yang menurut Amerika Serikat dapat digunakan untuk membangun senjata nuklir.
Trump juga menyatakan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. “Ada peluang yang sangat baik kita akan membuat kesepakatan dengan Teheran,” kata Trump pada hari Kamis, sebagaimana diberitakan Sindonews, Jumat (17/04/2026).
Seiring berlangsungnya negosiasi tersebut, dinamika konflik di kawasan juga menunjukkan perkembangan lain. Trump mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari yang mulai berlaku pada Kamis petang waktu AS atau Jumat pagi WIB. Ia berharap para pemimpin kedua negara dapat bertemu di Gedung Putih dalam empat hingga lima hari ke depan untuk melanjutkan pembahasan damai.
Dari pihak Lebanon, anggota parlemen Hizbullah Ibrahim al-Moussawi menyatakan kelompoknya akan mematuhi kesepakatan tersebut dengan syarat serangan Israel dihentikan. Pernyataan ini menandai peluang meredanya ketegangan di salah satu front konflik yang melibatkan kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Meski demikian, tekanan militer masih membayangi proses diplomasi. AS sebelumnya mengancam akan melanjutkan serangan udara serta mempertahankan blokade Angkatan Laut terhadap pelabuhan Iran jika Teheran menolak kesepakatan yang diajukan.
Konflik yang pecah sejak 28 Februari ini dipicu oleh tuduhan AS bahwa Iran tengah mempercepat pengembangan senjata nuklir, meski klaim tersebut tidak didukung oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) atau Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Situasi ini menunjukkan bahwa kesepakatan damai masih menghadapi tantangan besar di tengah perbedaan kepentingan yang mendasar antara pihak-pihak terkait.[]
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan