Kebakaran tempat pengolahan kopra di Jawai diduga dipicu arang batok kelapa yang masih panas, menyebabkan kerugian puluhan juta rupiah tanpa korban jiwa.
SAMBAS – Kebakaran yang menghanguskan bangunan tempat pengolahan kopra di Dusun Melamin RT 007/RW 004, Desa Sarang Burung Kuala, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, menyoroti kelalaian penyimpanan bahan mudah terbakar yang diduga menjadi pemicu utama insiden tersebut pada Senin (20/04/2026) dini hari sekitar pukul 03.30 WIB.
Peristiwa itu tidak menimbulkan korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan mencapai Rp25 juta. Api baru dapat dipadamkan sekitar pukul 06.00 WIB setelah warga berjibaku menggunakan peralatan seadanya.
Kepala Seksi (Kasi) Hubungan Masyarakat (Humas) Kepolisian Resor (Polres) Sambas, Sadoko, mengatakan dugaan sementara kebakaran berasal dari arang batok kelapa yang masih menyimpan panas dan diletakkan di sekitar bangunan. “Mengenai penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan, namun api diduga kuat berasal dari arang batok kelapa yang tersimpan di belakang bangunan,” terangnya, sebagaimana dilansir Pontianak Post, Senin (20/04/2026).
Menurutnya, saat kejadian pemilik bangunan berinisial B (46) berada di rumahnya yang berjarak sekitar 30 meter dari lokasi kebakaran. Api pertama kali diketahui warga yang melihat kepulan asap membesar dari area bangunan.
Warga kemudian bersama korban berupaya memadamkan api dengan mesin air rumah tangga, jet cleaner, serta ember dengan sumber air dari sumur terdekat. Upaya tersebut akhirnya berhasil mengendalikan kobaran api meski sebagian bangunan sudah terbakar.
Dari keterangan pemilik, pada Minggu 19 April 2026 sore, arang batok kelapa yang masih panas dimasukkan ke dalam empat karung, ditutup terpal, dan diletakkan di belakang bangunan berdampingan dengan tumpukan kopra. Kondisi itu diduga memicu munculnya api yang kemudian membesar dan membakar bangunan berukuran sekitar 10 meter x 3 meter yang terbuat dari dinding semen, lantai pelat besi, serta rangka atap kayu dan seng.
Polres Sambas mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menyimpan bahan yang mudah terbakar guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan