Pemkab Paser menggagas RODA PANGAN dengan memberdayakan kios desa dan menggandeng Perum Bulog untuk memperpendek distribusi, menjaga keterjangkauan harga, serta menangani enam desa yang masih rentan rawan pangan.
PASER – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser melalui Dinas Ketahanan Pangan menggagas Revitalisasi Outlet Desa melalui Akselerasi Pangan (RODA PANGAN) untuk memperpendek rantai distribusi, menjaga keterjangkauan harga, dan memperkuat akses pangan masyarakat hingga tingkat desa. Program tersebut diprioritaskan untuk membantu penanganan desa yang masih masuk kategori rentan rawan pangan.
Kepala Dinas (Kadis) Ketahanan Pangan Paser, M. Arpah, mengatakan program itu dilatarbelakangi distribusi pangan yang dinilai belum optimal di sejumlah wilayah.
“Berdasarkan Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) Kabupaten Paser Tahun 2025, masih terdapat enam desa yang masuk kategori rentan rawan pangan”, ujar Arpah, Jumat (14/08/2026).
Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) tersebut mencatat kerentanan pangan dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya keterbatasan sarana penyedia pangan, tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih rendah, serta akses transportasi yang menghambat kelancaran distribusi dan keterjangkauan harga.
Melalui RODA PANGAN, Pemkab Paser tidak membangun infrastruktur baru, tetapi memanfaatkan kios, warung, maupun toko kelontong yang telah beroperasi di desa untuk dikembangkan menjadi Outlet Pangan Desa.
“Jadi konsepnya dibangun melalui perjanjian kerja sama dua arah, yakni antara Pemerintah Daerah dengan Perum Bulog sebagai penyedia bahan pangan, dan antara Pemerintah dengan pelaku usaha pemilik outlet di desa”, imbuhnya.
Skema tersebut melibatkan Pemerintah Daerah (Pemda) Paser, Perusahaan Umum (Perum) Bulog sebagai penyedia bahan pangan, serta pelaku usaha desa sebagai pengelola outlet. Melalui pola itu, distribusi pangan diharapkan menjadi lebih singkat sekaligus mampu menjangkau masyarakat di desa yang menghadapi keterbatasan akses.
Arpah menjelaskan, RODA PANGAN tidak hanya diarahkan untuk menjamin ketersediaan pangan, tetapi juga memastikan komoditas dapat didistribusikan dengan harga terjangkau dan mudah diakses masyarakat.
“Jadi tujuan dari kebijakan tidak lagi sekadar memastikan pangan tersedia, tetapi memastikan pangan tersedia, terdistribusi, terjangkau, dan benar-benar dapat diakses masyarakat hingga ke tingkat desa,” jelasnya.
Komoditas yang direncanakan disalurkan melalui outlet tersebut antara lain beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), gula pasir, minyak goreng, serta sejumlah pangan strategis lainnya. Harga penjualan akan mengacu pada ketentuan pemerintah atau Harga Eceran Tertinggi (HET).
Program RODA PANGAN juga dilengkapi sistem transparansi harga dan stok, mekanisme pengaduan masyarakat, peningkatan kapasitas pengelola outlet, serta pemantauan dan evaluasi secara berkelanjutan.
Pada tahap awal, Pemkab Paser menargetkan terbentuknya kerja sama resmi dengan Perum Bulog, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) distribusi, kemitraan dengan kios desa, serta pengoperasian empat Outlet RODA PANGAN percontohan di desa prioritas rentan rawan pangan.
Dinas Ketahanan Pangan Paser juga menggelar pelatihan pendataan stok pangan bagi aparatur desa dan pengelola outlet. Pelatihan tersebut diharapkan mendukung tersedianya data pangan desa yang dapat menjadi dasar pemantauan pasokan dan kebutuhan masyarakat.
“Dengan demikian, aparatur desa dan pengelola outlet tidak hanya berperan sebagai pelaksana distribusi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun sistem informasi pangan desa,” Pungkasnya.
Kehadiran RODA PANGAN diharapkan menjadi instrumen Pemda Paser untuk mendekatkan akses pangan dengan harga terjangkau kepada masyarakat, menjaga stabilitas pasokan, membantu pengendalian inflasi, serta secara bertahap mengurangi jumlah desa rentan rawan pangan di Paser. []
Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan