Israel menggelontorkan sekitar Rp26,8 miliar per bulan untuk kampanye digital yang menyasar Gen Z, pemengaruh konservatif, media sosial, dan sumber informasi AI di AS.
WASHINGTON – Strategi komunikasi digital Israel yang menyasar Generasi Z (Gen Z), kelompok konservatif muda, dan sumber informasi kecerdasan buatan (AI) dinilai belum mampu membendung penurunan dukungan publik di Amerika Serikat (AS). Kampanye bernilai US$1,5 juta atau sekitar Rp26,8 miliar per bulan itu dijalankan melalui media sosial, jaringan pemengaruh, dan produksi konten daring.
Pemerintah Israel menggandeng mantan manajer kampanye Presiden AS Donald Trump, Brad Parscale, melalui perusahaan Clock Tower X. Operasi tersebut diarahkan untuk mempertahankan dukungan kelompok konservatif, khususnya kalangan muda dalam basis gerakan Make America Great Again (MAGA), yang mulai menunjukkan sikap lebih kritis terhadap Israel.
Kampanye itu mulai dijalankan setelah agensi periklanan global Havas menyewa Clock Tower X pada September 2025 atas nama Israel, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Jumat, (17/07/2026). Kerja sama tersebut tercatat dalam dokumen Foreign Agents Registration Act (FARA) di AS.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Clock Tower X ditugaskan memproduksi 100 konten orisinal setiap bulan. Sedikitnya 80 persen konten ditujukan kepada Gen Z melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan siniar, dengan target mencapai sedikitnya 50 juta tayangan digital setiap bulan.
Operasi komunikasi itu juga diarahkan untuk memengaruhi sumber daring yang digunakan sistem AI seperti ChatGPT milik OpenAI, Claude milik Anthropic, dan Gemini milik Google. Upaya tersebut dilakukan dengan memperbanyak dan meningkatkan posisi konten yang menguntungkan Israel dalam hasil pencarian dan sumber informasi di internet.
Secara terbuka, kampanye tersebut disebut bertujuan memerangi antisemitisme. Namun, sasaran strategis lainnya adalah mencegah kelompok konservatif muda berbalik menentang Israel serta mempertahankan dukungan terhadap hubungan politik dan keamanan antara Washington dan Tel Aviv.
Clock Tower X juga menawarkan penguatan pesan melalui jaringan media konservatif Kristen Salem Media Network. Parscale diketahui memegang posisi strategis di perusahaan media tersebut, meskipun ia menyatakan kontraknya dengan Israel tidak memengaruhi pembawa acara maupun pemengaruh independen yang terhubung dengan jaringan itu.
Tiga orang yang mengetahui operasi tersebut menyebut sejumlah pemengaruh konservatif menerima saran pilihan kata melalui grup percakapan pribadi. Mereka disebut memperoleh kompensasi berdasarkan jumlah tayangan dan interaksi yang dihasilkan dari unggahan masing-masing.
Clock Tower X menggambarkan operasinya sebagai “ekosistem influencer” yang dapat memperkuat narasi melalui suara-suara yang terlihat independen dan dipercaya audiens. Namun, belum diketahui secara pasti berapa nilai pembayaran kepada pembuat konten yang berkaitan langsung dengan kampanye Israel.
Parscale membantah dana dalam kontrak yang terdaftar melalui FARA digunakan untuk membayar pemengaruh. Ia juga menolak anggapan bahwa operasinya bertujuan melemahkan kebijakan Trump atau memperpanjang konflik di kawasan Timur Tengah.
Meski kampanye masih berlangsung, sejumlah pejabat Israel dilaporkan tidak puas dengan hasilnya. Survei yang dirujuk dalam laporan tersebut menunjukkan pandangan negatif terhadap pemerintah Israel meningkat, terutama di kalangan warga muda dan sebagian pemilih Partai Republik. Sebanyak 57 persen kelompok muda Republik disebut memiliki pandangan tidak menguntungkan terhadap Israel, meningkat dari 50 persen pada tahun sebelumnya.
Namun, Parscale menilai kampanyenya tetap efektif pada kelompok sasaran tertentu. Ia merujuk jajak pendapat lain yang menunjukkan 73 persen pemilih pendukung kebijakan bergaya Trump masih memiliki pandangan positif terhadap Israel. Perbedaan hasil survei itu memperlihatkan bahwa efektivitas kampanye masih menjadi perdebatan.
Kampanye tersebut menunjukkan bahwa persaingan membentuk opini publik tidak lagi hanya berlangsung melalui iklan dan pemberitaan, tetapi juga merambah algoritma media sosial serta sumber informasi yang diproses sistem AI. Transparansi pendanaan dan pengungkapan pihak di balik konten menjadi penting agar masyarakat dapat membedakan pandangan organik dari pesan politik yang disusun secara terkoordinasi. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan