Lonjakan volume sampah hingga 354 ton per hari membuat TPA Bekotok diprediksi penuh pada 2027, memaksa Pemkab Kukar menyiapkan lokasi baru.
KUTAI KARTANEGARA – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bekotok di Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, diprediksi tidak lagi mampu menampung sampah warga paling lambat 2027. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar untuk segera menyiapkan lokasi pengganti setelah lebih dari tiga dekade beroperasi sejak 1993.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, mengungkapkan tekanan terhadap TPA Bekotok terus meningkat seiring bertambahnya produksi sampah harian di wilayah Tenggarong. “Berdasarkan data kami, volume sampah yang masuk mencapai 354 ton setiap harinya. Angka ini terus menggerus sisa daya tampung yang ada, sehingga kami memproyeksikan TPA ini akan penuh total pada 2027 mendatang,” ujar Tri Joko di Tenggarong, Jumat (17/04/2026).
Sebagai langkah antisipasi potensi darurat sampah, DLHK Kukar telah memetakan empat lokasi alternatif untuk pembangunan TPA baru. Lokasi tersebut berada di Kelurahan Loa Ipuh Darat, Kelurahan Jahab, Desa Bendang Raya, dan Desa Rapak Lambur. Pemindahan ini dinilai penting guna memastikan pengelolaan sampah tetap berjalan optimal tanpa memperparah kondisi lingkungan di lokasi lama yang sudah kritis.
Namun demikian, penetapan lokasi akhir masih menunggu hasil uji kelayakan yang komprehensif. “Kami tidak bisa sembarangan memilih. Uji kelayakan ini sangat vital untuk memastikan lahan tersebut sesuai tata ruang, memiliki jarak aman dari permukiman, kondisi geografis yang stabil, akses jalan yang memadai, serta meminimalkan dampak terhadap lingkungan sekitar,” jelasnya.
Tri Joko menambahkan, keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan utama dalam percepatan pembangunan TPA baru. Meski begitu, DLHK Kukar tetap berkomitmen mendorong realisasi proyek tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang Pemkab Kukar dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Jika tidak segera direalisasikan, penumpukan sampah dikhawatirkan akan terjadi dan berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan serta kesehatan masyarakat di Tenggarong dalam dua tahun ke depan. []
Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan