TEL AVIV – Ketegangan antara Israel dan Iran kembali memanas, kali ini bukan di medan tempur, melainkan di ruang digital. Otoritas keamanan siber Israel mengungkap adanya dugaan aktivitas peretasan yang menargetkan jaringan kamera keamanan milik warga sejak konflik terbaru di Timur Tengah kembali memuncak.
Direktorat Keamanan Siber Nasional Israel menyatakan telah menemukan puluhan indikasi akses ilegal terhadap kamera pengawas yang diduga dimanfaatkan untuk kegiatan spionase. Temuan tersebut terungkap pada Rabu (11/03/2026) dan langsung memicu peringatan kepada masyarakat agar meningkatkan keamanan perangkat digital mereka.
Pemerintah Israel menilai kamera pengawas yang terhubung dengan internet berpotensi menjadi celah bagi pihak luar untuk mengumpulkan informasi strategis. Karena itu, warga diminta segera mengambil langkah pencegahan dengan memperkuat perlindungan perangkat mereka.
Seorang pejabat dari otoritas keamanan siber Israel menyebut pihaknya kini tengah menghubungi banyak pemilik perangkat kamera untuk memberikan peringatan dini. Menurutnya, upaya ini dilakukan agar masyarakat segera memperbarui sistem keamanan perangkat yang mereka gunakan.
“Kami menemukan sejumlah percobaan akses ilegal terhadap kamera keamanan. Karena itu masyarakat diminta segera mengganti kata sandi dan memperbarui perangkat lunak agar sistem mereka tidak mudah disusupi,” ujar perwakilan Direktorat Keamanan Siber Israel dalam keterangan yang dikutip AFP, Rabu (11/03/2026).
Ketegangan di ruang siber antara Israel dan Iran sendiri bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara kerap saling melancarkan operasi digital sebagai bagian dari perang bayangan yang berlangsung di balik konflik geopolitik mereka.
Situasi tersebut semakin meningkat setelah konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah kembali memanas pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, berbagai aktivitas peretasan dilaporkan meningkat, terutama yang menargetkan sistem digital dan infrastruktur teknologi.
Kasus serangan siber bahkan sempat menimpa tokoh politik Israel. Pada Desember 2025, mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengungkap bahwa akun Telegram miliknya menjadi sasaran peretas. Sejumlah pesan pribadi, foto, dan video yang diduga berasal dari ponselnya kemudian disebarluaskan melalui situs peretas bernama “Handala”.
Nama tersebut merujuk pada tokoh simbolik yang sering digunakan sebagai lambang perjuangan Palestina.
Pakar keamanan siber yang diwawancarai AFP mengatakan bahwa kelompok peretas yang diduga terkait Iran semakin aktif sejak konflik di kawasan kembali memanas. Mereka disebut memanfaatkan berbagai celah keamanan digital untuk mengakses data penting.
Perusahaan keamanan siber Israel, Check Point, juga melaporkan adanya aktivitas mencurigakan yang menargetkan kamera pengawas sejak dimulainya serangan militer AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Kepala intelijen siber Check Point, Gil Messing, menjelaskan bahwa akses terhadap kamera pengawas dapat memberikan informasi penting bagi pelaku spionase digital.
“Rekaman dari kamera publik bisa dimanfaatkan untuk memantau dampak serangan maupun mempelajari aktivitas target tertentu di suatu lokasi,” kata Messing dalam wawancara dengan AFP.
Ia menambahkan bahwa sebagian kelompok peretas tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan lembaga keamanan Iran, termasuk Garda Revolusi serta badan intelijen negara tersebut.
Di sisi lain, laporan media internasional juga menunjukkan bahwa praktik spionase digital tidak hanya terjadi satu arah. Financial Times sebelumnya melaporkan bahwa Israel diduga telah lama mengakses jaringan kamera lalu lintas di Teheran untuk kepentingan intelijen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik Israel dan Iran kini tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga berkembang menjadi perang teknologi yang melibatkan perangkat digital sehari-hari. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan