Kasus Campak di Balikpapan Melonjak, DKK Catat Lebih dari 200 Kasus

BALIKPAPAN — Kasus campak di Kota Balikpapan menunjukkan peningkatan signifikan pada awal tahun 2026. Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan mencatat lebih dari 200 kasus campak yang tersebar di hampir seluruh kelurahan hingga pertengahan Maret 2026.

Lonjakan kasus ini menjadi perhatian pemerintah daerah karena sebagian besar penderita berasal dari kelompok usia dewasa, terutama pada rentang usia 20 hingga 40 tahun. Kelompok usia tersebut diketahui belum memiliki riwayat imunisasi campak secara lengkap. Padahal selama ini penyakit campak lebih sering menyerang anak-anak.

Kepala DKK Balikpapan, Alwiati, mengatakan campak merupakan penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi. Ia menegaskan bahwa imunisasi memiliki peran penting dalam membentuk kekebalan tubuh terhadap virus campak.

“Kalau sudah pernah imunisasi biasanya tidak terlalu parah karena sudah ada kekebalan tubuh,” ujar Alwiati saat ditemui di kantornya, Senin (16/03/2026).

Menurutnya, lonjakan kasus pada orang dewasa diduga terjadi karena sebagian masyarakat tidak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap saat masa kanak-kanak. Ketika virus menyebar di lingkungan masyarakat, kelompok tersebut menjadi lebih rentan tertular.

Campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dari keluarga paramyxovirus yang menyerang saluran pernapasan. Virus ini sangat mudah menular melalui percikan air liur atau droplet yang keluar ketika penderita batuk, bersin, maupun berbicara.

Virus campak dapat menyebar melalui udara dan menular kepada orang lain yang belum memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut.

Alwiati menjelaskan bahwa gejala campak biasanya muncul sekitar tujuh hingga 14 hari setelah seseorang terpapar virus. Gejala awal yang sering muncul antara lain demam tinggi, batuk, pilek, sakit tenggorokan, mata merah, serta tubuh terasa lemas.

Setelah beberapa hari, penderita biasanya mulai mengalami ruam kemerahan pada kulit yang muncul dari wajah dan leher, kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya seperti dada, punggung, hingga kaki.

Dalam beberapa kasus, penyakit ini dapat berkembang menjadi komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik.

“Pada beberapa kasus, pasien bisa mengalami komplikasi seperti radang paru atau pneumonia, infeksi telinga, hingga sesak napas, terutama pada mereka yang tidak memiliki kekebalan dari vaksin,” jelasnya.

Data DKK Balikpapan menunjukkan bahwa lonjakan kasus tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang Januari hingga Juli 2025, jumlah kasus campak di Balikpapan tercatat sekitar 48 kasus. Sementara pada awal tahun 2026 jumlah kasus telah melampaui 200 kasus.

Meski demikian, Balikpapan belum termasuk daerah endemik campak yang diwajibkan menjalankan program Outbreak Response Immunization (ORI) oleh Kementerian Kesehatan.

“Tetapi kita bukan daerah endemik yang diminta ORI oleh Kemenkes. Namun kita tetap mengejar cakupan imunisasi agar masyarakat tidak terjangkit,” ujar Alwiati.

Untuk menekan penyebaran penyakit tersebut, DKK Balikpapan meningkatkan pemantauan kasus melalui 27 puskesmas yang tersebar di enam kecamatan di kota tersebut. Petugas kesehatan juga diminta aktif melakukan pelacakan kasus, edukasi kesehatan, serta memastikan masyarakat mendapatkan layanan imunisasi.

Selain itu, vaksin campak juga tersedia di sejumlah klinik kesehatan dan rumah sakit yang bekerja sama dengan pemerintah daerah.

Alwiati menyebutkan bahwa cakupan imunisasi campak pada anak di Balikpapan dalam beberapa tahun terakhir sebenarnya sudah cukup tinggi. Namun masih terdapat kelompok masyarakat yang belum melengkapi imunisasi sehingga berpotensi menjadi celah penularan.

Karena itu, masyarakat yang belum pernah mendapatkan vaksin campak diimbau untuk segera melakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.

“Vaksinasi adalah langkah paling efektif untuk mencegah penularan. Kami mengimbau masyarakat yang belum pernah imunisasi untuk segera datang ke puskesmas dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” kata Alwiati.

DKK juga mengimbau masyarakat yang mengalami gejala campak agar segera melakukan penanganan mandiri pada tahap awal penyakit. Penderita dianjurkan beristirahat yang cukup, memperbanyak konsumsi cairan, serta mengonsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Selain itu, penderita juga disarankan menghindari kontak dengan orang lain dan menggunakan masker agar tidak menularkan virus kepada anggota keluarga maupun lingkungan sekitar.

“Kalau sudah terjangkit harus segera isolasi mandiri sampai sembuh seperti cacar agar tidak menularkan kepada anggota keluarga lain,” tegasnya.

Secara nasional, campak masih menjadi penyakit menular yang perlu diwaspadai. Data Kementerian Kesehatan mencatat sepanjang 2025 terdapat lebih dari 63 ribu kasus suspek campak di Indonesia, dengan lebih dari 11 ribu kasus yang terkonfirmasi secara laboratorium.

DKK Balikpapan berharap kesadaran masyarakat untuk melengkapi imunisasi semakin meningkat, baik pada anak maupun orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin. Dengan cakupan imunisasi yang merata, pemerintah berharap penyebaran campak dapat ditekan sehingga tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa.

“Dengan cakupan imunisasi yang merata, kita berharap penyebaran campak dapat ditekan sehingga tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa,” pungkas Alwiati. []

Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com