Dugaan Malpraktik di RSUD AWS, Tangan Bayi Menghitam dan Melepuh

Bayi tiga bulan mengalami pembengkakan hingga luka serius diduga akibat kesalahan pemasangan infus, keluarga minta pertanggungjawaban rumah sakit.

SAMARINDA – Dugaan kelalaian medis dalam penanganan bayi berinisial S (3 bulan) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda mencuat setelah tindakan pemasangan infus diduga menyebabkan pembengkakan parah hingga menjalar ke dada, Jumat (06/03/2026).

Kasus ini bermula saat ibu korban, Rafita, membawa bayinya untuk mendapatkan perawatan akibat sakit. Namun, pada hari yang sama, infus yang terpasang pada bayi tersebut terlepas dan kemudian dilakukan pemasangan ulang oleh tenaga medis.

Rafita mengungkapkan bahwa setelah pemasangan ulang infus, bayinya menunjukkan kondisi tidak biasa dengan terus menangis dan tidak tidur sepanjang malam. Ia juga tidak mengetahui adanya pembengkakan karena tangan bayi dibalut perban. “Subuh ada perawat datang cuma ngasih obat, tidak memeriksa,” ujarnya saat ditemui di rumahnya di Jalan A. Wahab Syahranie Gang 3B, Senin (30/03/2026) malam.

Ia menjelaskan bahwa pembengkakan baru diketahui pada pagi hari ketika perawat lain melakukan pemeriksaan dan menemukan infus tidak masuk dengan benar. Kondisi pembengkakan tersebut bahkan telah menyebar hingga ke bagian dada bayi. “Bengkaknya sudah sampai ke dada,” katanya.

Setelah beberapa hari menjalani perawatan, kondisi tangan bayi dilaporkan semakin memburuk, ditandai dengan perubahan warna menjadi kehitaman, melepuh, serta mengeluarkan cairan. “Tangan yang bekas infus itu sudah hitam, sudah melepuh dan berair,” ucapnya.

Menurut Rafita, dokter bedah sempat menyarankan tindakan operasi apabila kondisi semakin memburuk. Namun, keluarga menolak karena awalnya bayi hanya dirawat akibat muntaber. “Katanya kalau memang hitam mau dioperasi, tapi suami saya keberatan karena awalnya anak kami dirawat karena muntaber,” ujarnya.

Ia juga mengaku khawatir terhadap risiko tindakan tersebut, termasuk kemungkinan amputasi sebagaimana pernah terjadi pada kasus serupa. “Kami takut kejadian seperti di Makassar itu, sampai diamputasi,” katanya.

Rafita menjelaskan bahwa tindakan yang akhirnya dilakukan hanya berupa pembersihan luka dan pembalutan ulang tanpa operasi, meskipun sempat diarahkan ke beberapa ruang perawatan. “Cuma dibersihkan pakai kasa lalu diperban lagi,” ucapnya.

Setelah tindakan tersebut, ia mengaku sempat diminta untuk melakukan kontrol lanjutan, namun diinformasikan bahwa kondisi luka telah mengering sehingga bayinya diperbolehkan pulang. “Saya tanya kontrol lagi, mereka bilang sudah kering tidak apa-apa,” ujarnya.

Ia juga menilai proses pemasangan infus dilakukan berulang kali dan diduga oleh tenaga medis yang belum berpengalaman, sehingga menyebabkan bayinya mengalami kesakitan. “Kayaknya seperti anak-anak baru belajar, karena dicucuk berkali-kali,” ucapnya.

Rafita menyebut keluarga merasa keberatan atas kejadian tersebut, namun belum mengajukan laporan resmi karena keterbatasan pemahaman dan dukungan. “Keluarga keberatan semua, tapi kami tidak tahu harus bagaimana,” ujarnya.

Ia berharap pihak RSUD AWS Samarinda bertanggung jawab atas kondisi yang dialami bayinya hingga pulih sepenuhnya tanpa dampak jangka panjang. “Harapannya anak saya diobati sampai tuntas dan sembuh,” tutupnya.

Hingga kini, pihak RSUD AWS Samarinda belum memberikan keterangan resmi terkait kejadian tersebut. Sementara itu, Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur (Kaltim) telah mendampingi keluarga korban untuk tindak lanjut kasus ini. []

Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com