Gawe Dayak Naik Dango XXVI Kota Singkawang digelar 27–31 Mei 2026 sebagai ruang pelestarian budaya Dayak, penguat toleransi, dan penggerak ekonomi UMKM dengan target perputaran Rp1,75 miliar.
SINGKAWANG – Gawe Dayak Naik Dango XXVI Kota Singkawang tidak hanya menjadi ruang pelestarian adat masyarakat Dayak, tetapi juga ditargetkan mampu menggerakkan ekonomi lokal melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan perputaran mencapai Rp1,75 miliar selama lima hari pelaksanaan.
Perhelatan budaya tahunan tersebut digelar di Rumah Adat Dayak, mulai 27 hingga 31 Mei 2026, sebagai ungkapan syukur masyarakat Dayak atas hasil panen padi yang diberikan Jubata. Kegiatan itu juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya leluhur yang sarat nilai kebersamaan, sebagaimana diwartakan Media Center Singkawang, Rabu, (27/05/2026).
Ketua Panitia Gawe Dayak Naik Dango XXVI Andreas Aan mengatakan, kegiatan budaya itu diharapkan tidak hanya menjadi seremoni adat, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM yang terlibat selama kegiatan berlangsung.
“Target perputaran ekonomi melalui UMKM tahun ini sebesar Rp1,75 miliar selama lima hari pelaksanaan, dari 27 hingga 31 Mei 2026,” tutupnya.
Menurut Andreas, target tersebut didasarkan pada capaian dan antusiasme masyarakat pada pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Ia menilai, tingginya minat masyarakat terhadap Gawe Dayak Naik Dango menjadi peluang penting untuk memperkuat ekonomi lokal melalui kegiatan berbasis budaya.
Selain berdampak pada ekonomi, Andreas mengajak generasi muda Dayak untuk terus menjaga dan mengembangkan budaya warisan leluhur. Ia menegaskan, simbol budaya seperti mandau dan tarian tradisional bukan sekadar peninggalan adat, melainkan amanat yang harus dijaga martabatnya.
“Mandau bukan hanya pusaka, tetapi amanat. Tarian tradisional sejatinya adalah doa leluhur yang harus kita junjung dan kembangkan demi kemajuan masyarakat Dayak,” katanya.
Pembukaan Gawe Dayak Naik Dango XXVI berlangsung meriah pada Rabu (27/5/2026) malam. Kegiatan itu resmi dibuka melalui prosesi pemukulan gong oleh Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie dan Wakil Wali Kota (Wawali) Singkawang Muhammadin, didampingi jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), panitia, dan tamu undangan.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan, keberagaman suku dan budaya yang hidup berdampingan telah memperkuat identitas Singkawang sebagai miniatur Indonesia. Ia menyebut berbagai agenda budaya yang rutin digelar menjadi simbol harmonisasi masyarakat multietnis di daerah tersebut.
“Kita punya Cap Go Meh, Gawe Dayak, Ramadhan Fair, sebentar lagi ada Grebek Suro dan event-event budaya lainnya. Ini menunjukkan Singkawang layak disebut miniatur Indonesia,” ujarnya.
Tjhai mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang melalui Dinas Pariwisata terus mendorong penyelenggaraan agenda budaya secara rutin. Pemkot Singkawang menargetkan minimal 12 event budaya setiap tahun untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
“Event budaya terbukti memberikan dampak ekonomi langsung, mulai dari tingkat hunian hotel, rumah makan, UMKM hingga masyarakat kecil seperti juru parkir juga ikut merasakan manfaatnya,” jelasnya.
Momentum Gawe Dayak tahun ini juga dinilai semakin memperkuat toleransi karena berlangsung berdekatan dengan perayaan Iduladha 1447 Hijriah. Tjhai menyebut kondisi itu menjadi bukti kuatnya harmoni sosial masyarakat Singkawang.
“Pagelaran Gawai Dayak tahun ini terasa semakin indah karena bertepatan dengan Iduladha yang dirayakan umat muslim. Ini memperlihatkan kuatnya toleransi dan harmoni masyarakat di Singkawang,” ungkapnya.
Melalui Gawe Dayak Naik Dango XXVI, Singkawang diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai kota budaya yang mampu merawat tradisi, menjaga toleransi, menarik wisatawan, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan