Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
WASHINGTON D.C – Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan eskalasi konflik dengan Iran setelah Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command / CENTCOM) melancarkan serangan militer baru yang menyasar kemampuan Iran di sekitar Selat Hormuz. Operasi tersebut dilakukan di tengah memanasnya ketegangan kedua negara yang saling melancarkan serangan dalam sepekan terakhir.
CENTCOM menyatakan operasi dimulai pada Minggu (12/7) pukul 17.00 waktu setempat atas arahan langsung Presiden AS Donald Trump. Sasaran operasi disebut untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran sipil maupun kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
“Pada pukul 17.00 sore ET hari ini, pasukan CENCTOM mulai melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran untuk melemahkan kemampuan mereka menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi Selat Hormuz,” demikian pernyataan CENTCOM di media sosial X, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Senin (13/07/2026).
Menurut CENTCOM, operasi tersebut juga bertujuan menjalankan arahan Presiden Trump agar “meminta pertanggungjawaban pasukan Iran.” Serangan ini menjadi rangkaian terbaru dalam eskalasi konflik yang dimulai sejak 7 Juli 2026.
Dalam satu pekan terakhir, AS telah melancarkan tiga gelombang serangan. Pada Sabtu (11/7), militer AS mengklaim menghantam sekitar 140 target militer Iran yang meliputi fasilitas rudal, pesawat nirawak (drone), gudang amunisi, jaringan komunikasi, hingga lokasi pengawasan pantai.
Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah instalasi militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk di Yordania, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Oman.
Ketegangan meningkat setelah Iran menembaki kapal-kapal dagang di Selat Hormuz serta mengumumkan penutupan sementara jalur pelayaran strategis tersebut hingga waktu yang belum ditentukan. AS menilai tindakan itu melanggar nota kesepahaman (Memorandum of Understanding / MoU) yang disepakati pada Juni 2026 untuk menghentikan permusuhan secara segera dan permanen sebagai dasar negosiasi damai.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia karena dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair global. Situasi keamanan di kawasan itu diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas pasokan energi internasional dalam waktu dekat. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan