Serangan udara terbaru AS menyasar tiga lokasi di Kota Bushehr, sementara Iran memperkuat pertahanan dan ketegangan kedua negara terus meningkat.
BUSHEHR – Iran kembali menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat (AS) setelah tiga lokasi di Kota Bushehr, yang menjadi pusat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) negara tersebut, dilaporkan dibombardir pada Rabu (15/07) waktu setempat. Hingga kini belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut.
Gubernur Kota Bushehr, Mohammad Mozafari, membenarkan adanya serangan yang menyasar wilayah tersebut.
“Musuh Amerika menyerang tiga lokasi di Bushehr hari ini,” kata Mohammad Mozafari kepada Kantor Berita Republik Islam Iran (Islamic Republic News Agency/IRNA), sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Rabu (15/07/2026).
Serangan terbaru itu terjadi setelah Iran mengaktifkan sistem pertahanan rudal untuk mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan dari AS. Langkah tersebut diambil menyusul peringatan Presiden AS Donald Trump yang menyebut fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir dan jembatan di Iran akan menjadi sasaran pada fase akhir operasi militer apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
Trump sebelumnya juga menyatakan AS akan terus melancarkan serangan dengan intensitas tinggi hingga menurutnya situasi dianggap telah cukup terkendali. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa Washington masih menggelar pembicaraan dengan Iran pada Selasa guna mendorong tercapainya kesepakatan.
PLTN Bushehr merupakan salah satu fasilitas nuklir terbesar di Iran yang dibangun melalui kerja sama dengan Rusia. Berdasarkan penjelasan Bichara Khader, PLTN tersebut mulai mendapatkan dukungan dari Rusia dan Tiongkok setelah proyek nuklir Iran mengalami keterbatasan pendanaan dan minim dukungan dari negara-negara Barat pada awal 1990-an.
Kerja sama dengan Rusia menghasilkan penyelesaian unit pertama PLTN Bushehr melalui kontrak yang ditandatangani pada 1999. Sementara itu, Iran dan Tiongkok lebih dahulu menandatangani perjanjian pada 1990 untuk melakukan transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir.
Kolaborasi Iran dengan Rusia dan Tiongkok di sektor nuklir kemudian memicu penolakan dari AS. Sebagai respons, Washington menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran pada periode 1995 hingga 1996. Situasi tersebut terus menjadi salah satu pemicu ketegangan antara kedua negara hingga kini. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan