Air Pegunungan Tabalong Diolah Jadi AMDK Sarabakawa

AMDK Sarabakawa produksi PT AMTB memanfaatkan sumber mata air pegunungan Tabalong dengan investasi sekitar Rp1,7 miliar dan ditargetkan mencapai titik impas dalam dua tahun.

TABALONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabalong mulai mendorong penguatan usaha daerah melalui produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Sarabakawa yang memanfaatkan sumber mata air pegunungan setempat dan ditargetkan mencapai titik impas dalam dua tahun.

Produk tersebut diluncurkan bertepatan dengan puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Senin (17/8/2026). AMDK diproduksi Perseroan Terbatas (PT) Air Minum Tabalong Bersinar (AMTB) dengan modal awal sekitar Rp1,7 miliar dan kapasitas produksi mesin mencapai 500 botol per jam. Hal tersebut sebagaimana diberitakan Antara, Senin, (17/08/2026).

Bupati Tabalong Muhammad Noor Rifani mengatakan air yang digunakan berasal dari mata air asli Tabalong dengan tingkat keasaman (pH) 7,8. Produk tersebut juga telah mengantongi berbagai persyaratan perizinan dan sertifikasi sehingga dapat dipasarkan melalui distributor.

“Sumber air berasal dari mata air asli Tabalong dengan PH 7,8 sehingga aman dikonsumsi,” jelas Noor Rifani, Senin.

Perizinan dan sertifikasi yang telah dimiliki meliputi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Standar Nasional Indonesia (SNI), Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO), sertifikasi halal, serta Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Dari sisi harga, AMDK Sarabakawa akan dipasarkan sebesar Rp35 ribu per dus yang berisi 24 botol berukuran 330 mililiter.

“AMDK ini akan dipasarkan melalui distributor dengan harga Rp35 ribu per dus isi 24 botol kemasan 330 ml,” H Fani.

Nama Sarabakawa dipilih setelah rencana awal menggunakan nama Sumber Mata Air Tabalong (SMART) Mineral tidak dapat digunakan karena telah terdaftar atas nama pihak lain dalam HKI.

Pemkab Tabalong juga berharap pemanfaatan produk lokal tersebut dapat diperluas ke lingkungan pemerintahan, termasuk satuan kerja perangkat daerah, kecamatan, kelurahan, dan desa. Langkah itu diharapkan sekaligus menciptakan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Kami harapkan semuanya bisa menggunakan air minum dalam kemasan PT AMTB, sehingga bisa menambah Pendapat Asli Daerah kita yang akan digunakan pembangunan dibangun untuk kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PT AMTB Anshari Fachmy mengatakan perusahaan masih memerlukan dukungan berbagai pihak agar pengembangan usaha AMDK tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Mohon dukungan semua pihak agar AMDK bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” jelas Anshari.

PT AMTB menargetkan investasi yang telah dikeluarkan sekitar Rp1,7 miliar dapat mencapai Break Even Point (BEP) atau titik impas dalam dua tahun. Target tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi keberlanjutan usaha air minum daerah yang baru dikembangkan.

Bahan baku AMDK Sarabakawa berasal dari kawasan pegunungan Desa Simping Layung, Kecamatan Muara Uya. Sumber tersebut disebut memiliki debit air yang cukup besar sehingga diharapkan mampu menopang kebutuhan produksi.

Pengembangan AMDK berbasis sumber daya lokal ini tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air minum kemasan, tetapi juga membuka peluang agar kegiatan usaha milik daerah dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian Tabalong. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com