Koalisi Masyarakat Desak Polisi Hentikan Represi Aksi di Samarinda

Komar mendesak Polri mengedepankan pendekatan humanis dan dialog dalam pengamanan aksi unjuk rasa di Samarinda.

SAMARINDA – Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Anti Represif (Komar) menyuarakan kritik terhadap pola penanganan aksi unjuk rasa oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang dinilai masih cenderung mengedepankan tindakan represif. Dalam aksi penyampaian aspirasi di Kepolisian Resor (Polres) Samarinda, Jumat (17/04/2026), mereka mendesak perubahan pendekatan pengamanan yang lebih mengutamakan prinsip kemanusiaan serta penghormatan terhadap hak berekspresi di ruang publik.

Perwakilan Komar, Ahmad, menyampaikan tuntutan agar aparat kepolisian menghentikan tindakan represif dalam penanganan aksi massa dan beralih pada pendekatan yang lebih humanis. “Tuntut hari ini adalah mengutuk keras apalagi kepolisian yang kerap kali melakukan tindakan represi dalam reaksi massa,” ujarnya di Polres Samarinda.

Ahmad

Ia menegaskan, pendekatan komunikasi dan dialog harus menjadi prioritas dalam menghadapi berbagai aksi unjuk rasa yang dilakukan masyarakat. “Kami mendesak kepolisian agar mengutamakan langkah-langkah humanis, komunikasi dan dialog dalam hal pengamanan aksi massa,” katanya.

Selain itu, Ahmad mengajak masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menjaga kondusivitas daerah serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. “Kami juga mengajak seluruh masyarakat yang ada di Kalimantan Timur agar tetap bisa menjaga kondusifitas yang ada di Kalimantan Timur, jangan mudah termakan isu hoaks dan juga lebih mengedepankan dialog,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa aksi yang dilakukan Komar bersifat independen dan tidak terafiliasi dengan rencana aksi lain yang akan digelar pada 21 April mendatang. Fokus utama gerakan ini adalah mendorong perubahan pendekatan aparat dalam setiap pengamanan aksi, tanpa terikat pada agenda kelompok tertentu. “Kalau kami jauh lebih mendesak Polri agar tidak melakukan tindakan represif ketika ada pengamanan aksi, tanggal berapapun itu, dari organisasi manapun itu, pokoknya Polri harus bisa bersikap humanis,” katanya.

Menurut Ahmad, masih terdapat sejumlah kejadian di berbagai daerah yang menunjukkan adanya tindakan represif aparat terhadap massa aksi yang seharusnya dapat dihindari. “Karena kita ketahui banyak aksi-aksi sebelumnya, kita lihat aparat kepolisian melakukan tindakan represif,” ucapnya.

Ia menambahkan, kehadiran pihaknya dalam aksi tersebut bertujuan mengingatkan pentingnya pendekatan persuasif dalam menjaga keamanan dan ketertiban. “Maka hari ini kami hadir untuk mengingatkan kembali ketika ada aksi dari organisasi manapun, apapun itu isunya, maka yang dikedepankan adalah dialog dan komunikasi yang secara humanis,” ujarnya.

Ahmad juga menekankan pentingnya mencegah tindakan kekerasan yang dapat merugikan masyarakat, khususnya mahasiswa dan kelompok sipil lainnya, dalam setiap aksi yang berlangsung. Ia menilai sejumlah peristiwa di berbagai daerah, baik di Kaltim maupun Pulau Jawa, harus menjadi pelajaran agar penanganan aksi ke depan lebih bijak dan mengedepankan prinsip kemanusiaan. “Sebagaimana yang terjadi di Kalimantan dan juga di Pulau Jawa,” pungkasnya. []

Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com