Tim Program Dosen Wajib Mengabdi ULM memperkuat budaya pendidikan inklusif melalui pelatihan yang melibatkan guru, orang tua, dan teman sebaya guna meningkatkan layanan bagi anak berkebutuhan khusus.
BANJARBARU – Kolaborasi antara guru, orang tua, dan teman sebaya menjadi fokus penguatan pendidikan inklusif yang dilakukan Tim Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui pelatihan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Palam, Kota Banjarbaru. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas layanan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) sekaligus membangun lingkungan belajar yang ramah dan bebas dari perundungan.
Sebanyak 30 peserta yang terdiri atas guru, tenaga kependidikan, dan orang tua mengikuti pelatihan yang mengangkat materi kolaborasi pembelajaran, pengasuhan positif, serta penguatan peer support. Kegiatan itu juga menjadi ruang diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi sekolah dan keluarga dalam mendampingi ABK, sebagaimana diberitakan Antara, Rabu (08/07/2026).
Ketua Tim Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Sakerani, mengatakan keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun sinergi antara sekolah dan keluarga.
“Kehadiran dan keterlihatan orang tua siswa menjadi bagian penting dari strategi membangun sinergi antara sekolah dan keluarga dalam memberikan layanan pendidikan yang inklusif,” kata Sakerani.
Ia menjelaskan, pelatihan dirancang agar guru reguler, guru pembimbing khusus, serta orang tua memiliki pemahaman yang sama dalam memberikan layanan pendidikan bagi ABK. Seluruh materi disusun agar dapat langsung diterapkan dalam proses pembelajaran maupun pengasuhan sehari-hari.
Dalam sesi diskusi, peserta memanfaatkan kesempatan untuk berkonsultasi mengenai berbagai persoalan, mulai dari mengenali karakteristik peserta didik, membangun komunikasi efektif antara sekolah dan keluarga, hingga menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman.
“Yang dibahas mulai dari strategi mengenali karakteristik dan kebutuhan belajar siswa, membangun komunikasi yang efektif dengan orang tua, hingga langkah-langkah menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan bebas dari perundungan,” terang Sakerani.
Salah satu persoalan yang dibahas berkaitan dengan perubahan perilaku anak yang menunjukkan sikap disiplin di sekolah, tetapi mudah marah ketika berada di rumah. Menanggapi hal tersebut, narasumber sekaligus psikolog Hayatun Thaibah menjelaskan kondisi tersebut cukup sering terjadi.
“Di sekolah, anak cenderung mampu mengendalikan diri karena adanya aturan, struktur, dan tuntutan sosial,” jelas Hayatun.
Menurutnya, orang tua perlu membangun komunikasi yang hangat, menerapkan aturan secara konsisten, memberikan konsekuensi yang mendidik, serta melibatkan anak dalam menyelesaikan konflik. Apabila perilaku tersebut terus berlangsung dan mengganggu hubungan sosial maupun keluarga, orang tua disarankan berkonsultasi dengan psikolog.
“Apabila perilaku tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu fungsi sosial maupun hubungan dalam keluarga, orang tua disarankan berkonsultasi dengan psikolog agar penyebabnya dapat diidentifikasi secara lebih mendalam,” tutur Hayatun.
Pada kesempatan yang sama, narasumber Imam Yuwono menegaskan pembelajaran di kelas inklusif harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik melalui metode yang fleksibel, penyesuaian media pembelajaran, pendampingan, serta penciptaan suasana kelas yang menghargai perbedaan.
“Hal tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan metode pembelajaran yang fleksibel, penyesuaian media dan tugas belajar, pemberian pendampingan sesuai kebutuhan, serta membangun suasana kelas yang menghargai perbedaan dan mendorong kerja sama antarsiswa,” tegas Imam.
Salah seorang peserta, Nur Komala Dewi, menilai pelatihan tersebut menambah wawasan guru dalam memahami karakteristik peserta didik sekaligus memperkuat kerja sama dengan orang tua agar layanan pendidikan inklusif dapat berjalan lebih optimal.
“Kolaborasi yang erat antara guru, keluarga, dan teman sebaya diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman, mendorong partisipasi seluruh peserta didik, serta memastikan setiap anak memperoleh kesempatan berkembang sesuai potensi yang dimilikinya,” harap Dewi. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan