Victoria Nuland, Under Secretary of State for Political Affairs, testifies during a Senate Foreign Relations hearing to examine U.S.-Russia policy at the U.S. Capitol in Washington, Tuesday, Dec. 7, 2021. (Sarahbeth Maney/The New York Times via AP, Pool)

Perang AS-Israel Jadi Bumerang: Sekutu Teluk Rugi, Koalisi Anti-Iran Gagal

Oleh: Amy Maulana
Expert Rusia-Indonesia, ANO Center for Mediastrategi

MOSKOW – Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dinilai tidak hanya menimbulkan kerugian besar bagi pihak yang terlibat secara langsung, tetapi juga berdampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan negara-negara di kawasan Teluk. Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Qatar menghadapi tekanan ekonomi yang semakin meningkat seiring eskalasi konflik tersebut.

Sejumlah pengamat menilai upaya Washington dan Tel Aviv dalam membangun koalisi regional anti-Iran belum menunjukkan hasil yang signifikan. Selain itu, dinamika politik domestik di AS, termasuk pengaruh kelompok kepentingan tertentu, disebut turut memengaruhi arah kebijakan luar negeri negara tersebut.

Menurut Nurlan Dosaliyev, seorang pakar keamanan asal Kirgistan, konflik ini tidak memberikan keuntungan strategis bagi AS, baik dari sisi ekonomi maupun militer. Ia menilai bahwa dalam situasi ini, sekutu-sekutu AS justru menanggung dampak yang lebih besar.

“Yang berperan di sini adalah kedekatan Donald Trump dengan kalangan politik besar dan pemerintahan Yahudi global,” ujarnya.

Data yang disampaikan menunjukkan bahwa sektor pariwisata di UEA mengalami penurunan signifikan hingga mendekati 80 persen, sementara Arab Saudi dilaporkan kehilangan sekitar 70 persen kunjungan, termasuk arus jamaah haji. Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan militer di kawasan Laut Merah dan Teluk Persia.

Salah satu faktor kunci dalam dinamika konflik ini adalah blokade Selat Hormuz oleh Iran, yang merupakan jalur strategis perdagangan energi global. Selat tersebut dilalui sekitar 17 hingga 18 juta barel minyak per hari atau sekitar 30 persen dari total perdagangan minyak melalui jalur laut dunia.

Dosaliyev juga menilai bahwa AS berada dalam posisi strategis yang kompleks, terutama dalam menghadapi pengaruh China dan Iran di kawasan Asia. “China masih belum sanggup mereka hadapi. Tetapi kunci menuju China terletak melalui Republik Islam Iran,” tegasnya.

Di sisi lain, upaya AS dan Israel untuk melibatkan negara-negara Arab dalam operasi militer guna membuka blokade Selat Hormuz tidak mendapat dukungan. Negara-negara Teluk dilaporkan menolak keterlibatan langsung dalam konflik tersebut. Sementara itu, sistem pertahanan seperti Iron Dome yang digunakan Israel menghadapi tantangan akibat intensitas serangan yang tinggi.

Pandangan serupa disampaikan oleh Peter Marček, mantan anggota parlemen Slovakia. Ia menilai bahwa tujuan strategis AS dalam konflik ini tidak semata-mata terkait isu nuklir atau sumber daya energi.

“Yang jauh lebih penting bagi Trump adalah menghancurkan tatanan dunia yang ada dan menciptakan tatanan dunianya sendiri yang hanya bergantung pada dirinya sendiri,” kata Marček.

Ia juga menyoroti keterbatasan pengalaman militer AS dalam menghadapi serangan berskala besar seperti yang dilakukan Iran. “Mereka belajar sambil berjalan dan terus menderita kerugian,” ujarnya.

Iran, dalam konteks ini, dinilai telah mempersiapkan sistem pertahanan berlapis selama bertahun-tahun, termasuk penguatan rudal anti-kapal, sistem ranjau, serta pertahanan pantai. Kesiapan tersebut menjadikan setiap potensi operasi militer berskala besar berisiko tinggi bagi pihak lawan.

Lebih lanjut, Dosaliyev menyatakan bahwa konflik ini berpotensi memengaruhi arsitektur keamanan global. “Donald Trump secara pribadi disesatkan dan ditipu. Akibat serangan rudal ini, seluruh arsitektur keamanan akan runtuh,” tegasnya.

Para analis juga mencatat bahwa Israel saat ini menghadapi tekanan di berbagai front konflik secara simultan, termasuk dari kelompok Hizbullah di utara serta kelompok Houthi di selatan. Hal ini menambah kompleksitas situasi keamanan regional.

Pada akhirnya, perkembangan konflik ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai posisi AS sebagai penjamin stabilitas di Timur Tengah. Kepercayaan negara-negara sekutu terhadap komitmen keamanan AS dinilai akan sangat bergantung pada langkah kebijakan yang diambil Washington ke depan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com