Peringatan Hari Musik Dunia di Kalsel menyoroti kuriding sebagai simbol budaya Banjar yang harus bertahan di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi.
BANJARMASIN – Upaya pelestarian kuriding sebagai instrumen identitas budaya Banjar kembali mendapat sorotan dalam peringatan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalimantan Selatan (Kalsel), ketika para pelaku seni menegaskan bahwa keberlangsungan musik tradisi kini tidak hanya bergantung pada panggung pertunjukan, tetapi juga pada keberanian generasi muda untuk kembali “mendengar” akar budayanya.
Momentum tersebut terjadi di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Jumat (26/06/2026), saat Mukhlis Maman alias Julak Larau—maestro kuriding asal Banua Kupang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah—menyampaikan refleksi mendalam tentang posisi musik tradisi di tengah arus modernisasi. Kegiatan ini turut menjadi ruang dialog antara seniman, akademisi, dan pengelola budaya mengenai masa depan musik daerah.
Dalam acara yang diwartakan Kanalkalimantan, Sabtu, (04/07/2026), Julak Larau menegaskan bahwa kuriding bukan sekadar alat musik, melainkan medium ingatan kolektif masyarakat Banjar. Ia juga menyampaikan pandangannya yang menggambarkan hubungan personal dengan alat musik tersebut.
“Saya tidak pernah memilih kuriding, mungkin justru kuriding yang memiih saya,” ucap Mukhlis Maman alias Julak Larau, sang maestro kuriding Kalimantan Selatan saat membacakan pesan di peringatan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel Banjarmasin, pada Jumat (26/6/2026) malam.
Julak Larau mengisahkan bahwa pengalaman awalnya dengan kuriding bermula dari masa kecil di area persawahan, ketika alat musik tradisional itu digunakan sebagai pengusir hama oleh sang kakek. Pada masa itu, kuriding belum diposisikan sebagai instrumen seni, melainkan alat sederhana yang nyaris terpinggirkan dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring waktu, posisi kuriding mengalami pergeseran makna dari alat pengusir tikus menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat Banjar. Transformasi tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah tradisi tidak ditentukan oleh kompleksitas bentuk, melainkan oleh keberlanjutan makna yang melekat di dalamnya.
“Pernah ada masa ketika orang lebih bangga memainkan bunyi dari tempat yang jauh, daripada mendengar bunyi yang lahir dari tanah sendiri,” ungkap Julak Larau.
Dalam pandangan Julak Larau, kekuatan musik tradisi justru terletak pada kesederhanaan dan kemampuan untuk tidak dipaksakan. Ia menilai, kuriding akan “hidup” ketika dimainkan dengan kesadaran, bukan sekadar teknik.
“Semakin keras kita memaksanya, maka ia akan kehilangan bunyi. Semakin tenang kita mendengarnya, maka banyak cerita yang ia sampaikan,” jelas seniman dan penata musik itu.
Pada kesempatan yang sama, ia juga menyoroti perubahan lanskap pendengaran masyarakat modern yang kini dibanjiri berbagai jenis suara, termasuk musik digital. Di tengah kondisi tersebut, ia mempertanyakan ruang refleksi diri yang mulai berkurang dalam kehidupan sehari-hari.
Selain Julak Larau, diskusi mengenai masa depan musik tradisi juga melibatkan akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), yakni Muhammad Budi Zakia Sani dari Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Ia menilai, perkembangan musik di Kalsel kini memasuki fase penting yang ditandai dengan pertemuan antara tradisi, teknologi, dan kreativitas generasi muda.
Penggunaan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dalam produksi musik, menurutnya, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi musisi lokal untuk tetap relevan tanpa kehilangan identitas budaya.
“Kita memaknai hari musik ini sebagai salah satu tempat untuk bertemu, jadi saling silang bunyi silang genre,” kata Zaki.
Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, Rizal Pahmi, menegaskan komitmen lembaganya dalam membuka ruang kolaborasi antara musik tradisi dan modern agar dapat terus berkembang dan menjangkau generasi muda.
“Mereka bisa berkolaborasi dengan musik daerah dan musik kontemporer yang ada di jaman sekarang,” ujar Rizal.
Peringatan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel dinilai menjadi ruang penting untuk memperkuat ekosistem musik daerah, sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan budaya tidak hanya ditentukan oleh pelestarian, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan