ilustrasi

Air dari Sabah dan Pasang Laut Kepung Tiga Desa di Nunukan

Luapan sungai dari wilayah Sabah yang bertemu pasang air laut merendam tiga desa dan sejumlah fasilitas umum di Sebatik Tengah, dengan ketinggian air mencapai paha orang dewasa.

NUNUKAN – Pertemuan luapan sungai dari wilayah Sabah, Malaysia, dengan pasang air laut memicu banjir besar yang merendam tiga desa di Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Senin (13/07/2026). Air bercampur lumpur memasuki puluhan rumah serta sejumlah fasilitas pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan tempat ibadah.

Tiga wilayah yang terdampak ialah Desa Aji Kuning, Desa Sungai Limau, dan Desa Bukit Harapan. Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut sejak dini hari dan meningkatkan debit aliran sungai dari wilayah hulu.

Desa Aji Kuning menjadi kawasan yang paling parah terdampak. Pada puncak banjir menjelang subuh, ketinggian air mencapai paha orang dewasa dan menggenangi bagian dalam rumah warga.

Camat Sebatik Tengah Aris Nur mengatakan, posisi Aji Kuning yang berada di dataran rendah menyebabkan desa tersebut menjadi titik pertemuan aliran air dari kawasan hulu. Kondisi geografis itu membuat wilayah tersebut berulang kali menghadapi ancaman banjir.

Aris menyebut banjir kali ini merupakan kejadian terparah yang melanda Sebatik Tengah sejak akhir 2019, sebagaimana diberitakan Wartabanjar, Senin (13/07/2026).

Selain puluhan rumah, genangan air merendam Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kantor desa, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), dan masjid.

Hingga laporan disampaikan, tidak terdapat korban jiwa maupun laporan kerusakan pada bangunan fasilitas umum. Namun, masuknya air dan lumpur mengganggu aktivitas warga serta pelayanan pada sejumlah fasilitas yang terdampak.

Banjir mulai berangsur surut setelah debit Sungai Aji Kuning menurun dan pasang air laut berakhir. Meski demikian, debit air di sejumlah titik hulu, khususnya di sekitar patok perbatasan Indonesia-Malaysia, masih relatif tinggi karena aliran dari kawasan atas terus mengalir.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di tiga desa diminta tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan air susulan, terutama apabila hujan kembali turun di kawasan hulu bersamaan dengan pasang air laut. Pemantauan aliran sungai dan kesiapsiagaan warga diperlukan untuk mengurangi risiko banjir berulang di kawasan perbatasan tersebut. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com