Laporan menyebut Arab Saudi melakukan koordinasi intensif dengan Amerika Serikat sebelum melancarkan serangan terhadap Houthi di Yaman sebagai langkah mengantisipasi meluasnya konflik kawasan.
JAKARTA – Arab Saudi dilaporkan memperkuat koordinasi dengan Amerika Serikat (AS) menjelang operasi militer terhadap milisi Houthi di Yaman. Langkah tersebut disebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi meluasnya konflik di kawasan di tengah memanasnya ketegangan antara AS dan Iran.
Laporan Axios menyebut komunikasi intensif antara pejabat tinggi Arab Saudi dan AS berlangsung sepanjang pekan lalu. Sebagaimana diwartakan Axios dan dilansir CNN Indonesia, Selasa (14/07/2026), rangkaian pembicaraan itu berujung pada pemberian dukungan Presiden AS Donald Trump terhadap rencana operasi militer Arab Saudi.
Serangan Arab Saudi yang menyasar Bandara Sanaa pada Senin (13/07/2026) disebut sebagai eskalasi lintas batas paling serius sejak 2022. Peristiwa tersebut dinilai berpotensi mengakhiri gencatan senjata tidak resmi yang telah berlangsung selama sekitar empat tahun antara Arab Saudi dan Houthi.
Menurut laporan tersebut, dua pejabat AS mengungkapkan bahwa pembahasan bermula ketika Arab Saudi menyampaikan kekhawatiran mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya di Yaman, di tengah konflik AS dan Iran.
Pada Kamis, Duta Besar Arab Saudi untuk Washington bertemu dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio. Sehari berselang, Rubio melanjutkan komunikasi dengan Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan untuk membahas perkembangan situasi.
Selanjutnya, pada Jumat, Trump dilaporkan melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS). Seorang pejabat AS menyebut dalam percakapan itu MbS meminta dukungan Trump untuk melancarkan operasi militer terhadap Houthi dan memperoleh persetujuan.
Laporan tersebut juga menyebut keputusan MbS untuk lebih dahulu berkonsultasi dengan Trump menunjukkan kekhawatiran Riyadh terhadap kemungkinan pecahnya konflik yang lebih luas dengan Houthi. Dukungan militer maupun diplomatik dari AS dinilai menjadi faktor penting apabila konfrontasi kembali meningkat di kawasan. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan