Sebanyak 240 siswa mulai menempati Sekolah Rakyat Cilandak setelah empat bangunan utama dan seluruh fasilitas dasar dinyatakan siap digunakan.
JAKARTA – Sebanyak 240 siswa mulai menempati kawasan Sekolah Rakyat (SR) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta di Kecamatan Cilandak, Kota Administrasi Jakarta Selatan (Jaksel), menjelang pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Kehadiran para siswa menandai beralihnya kawasan tersebut dari lokasi pembangunan menjadi ruang belajar, tempat tinggal, dan tumbuh kembang anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Empat bangunan utama telah dinyatakan layak huni dan mulai digunakan, yakni gedung sekolah lantai satu dan dua, asrama Sekolah Dasar (SD) putri, asrama Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) putri, serta gedung serbaguna. Pada tahap awal, gedung serbaguna difungsikan sebagai kantin sekaligus fasilitas pendukung kegiatan asrama.
Kawasan yang dibangun Perseroan Terbatas (PT) Hutama Karya (Persero) itu menjadi bagian dari 19 SR permanen gelombang pertama yang dijadwalkan memulai MPLS secara bertahap pada Selasa (14/7/2026). Seluruh fasilitas dasar, meliputi air bersih, listrik, dan sanitasi, telah beroperasi, sementara pekerjaan penyempurnaan pada sejumlah bagian kawasan masih berlangsung.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, penggunaan fasilitas SR dilakukan setelah setiap bangunan dipastikan aman dan nyaman bagi siswa.
“Kami tidak ingin anak-anak datang ke tempat yang sarananya belum benar-benar siap. Setiap titik harus aman dan nyaman sebelum kami menyambut mereka,” kata Saifullah, sebagaimana dilansir Hutama Karya, Senin, (13/07/2026).
Aktivitas pertama para siswa di kawasan tersebut ditandai dengan makan malam bersama di gedung serbaguna pada Senin malam. Setelah itu, siswa mengikuti rangkaian pengenalan lingkungan di aula dan mulai menempati asrama SMP serta SMA putri yang telah dilengkapi fasilitas pendukung.
Pelaksana Tugas (Plt) Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan pemanfaatan kawasan tersebut menjadi penanda peralihan proyek dari pembangunan fisik menuju pelayanan pendidikan dan pengasuhan siswa.
“Awal Juli lalu kami menyampaikan komitmen bahwa bangunan ini harus mampu menjadi rumah kedua yang layak bagi anak-anak. Hari ini, rumah kedua itu resmi berpenghuni. Bagi kami, tugas konstruksi tidak selesai ketika beton mengering, melainkan ketika anak-anak dapat belajar, makan, dan beristirahat dengan aman di dalamnya,” ujarnya.
Penggunaan fasilitas dilakukan secara bertahap dengan pola multi-entry, multi-exit. Melalui pola tersebut, setiap bangunan dapat segera digunakan setelah dinyatakan aman dan layak huni tanpa harus menunggu seluruh pekerjaan di kawasan selesai sepenuhnya.
Selama MPLS berlangsung, Hutama Karya menempatkan tim teknis yang bersiaga di kawasan untuk memastikan seluruh fasilitas beroperasi dengan baik. Pekerjaan penyelesaian pada zona yang belum digunakan tetap dilanjutkan dengan pemisahan ketat antara area konstruksi dan area aktivitas siswa.
Pemisahan tersebut dilakukan agar pekerjaan pembangunan tidak mengganggu proses belajar, kegiatan asrama, maupun keselamatan siswa. Tim teknis juga bertugas menangani kendala fasilitas yang dapat muncul selama tahap awal pemanfaatan kawasan.
“Keberhasilan proyek ini pada akhirnya diukur dari hal-hal yang dirasakan langsung oleh anak-anak: tidur nyenyak di asrama yang aman, makan di kantin yang bersih, dan belajar di ruang kelas yang terang. Ketika kelak ratusan anak ini menyebut Sekolah Rakyat sebagai rumah keduanya, di situlah kerja kami menemukan maknanya,” tutup Hamdani.
Pemanfaatan SR DKI Jakarta diharapkan memperluas akses pendidikan yang layak dan inklusif bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan struktural melalui pendidikan, pengasuhan, dan penyediaan fasilitas belajar yang aman serta memadai. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan