gambar ilustrasi

Cuaca Panas Picu Kebakaran Lahan Beruntun di Tana Tidung

Lonjakan kebakaran lahan akibat pembukaan lahan dengan cara dibakar membuat tim gabungan kewalahan di tengah cuaca panas ekstrem.

TANA TIDUNG – Lonjakan kebakaran lahan dalam beberapa hari terakhir membuat tim gabungan kewalahan, seiring meningkatnya aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar di tengah cuaca panas ekstrem di Kabupaten Tana Tidung (KTT).

Sedikitnya lima kejadian kebakaran lahan dilaporkan terjadi sejak Kamis hingga Minggu (19/04/2026), dengan dua peristiwa terbaru terjadi pada hari yang sama di wilayah Tideng Pale dan Sebawang. Kondisi ini memperlihatkan tingginya risiko kebakaran akibat praktik pembakaran lahan yang tidak terkendali.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Kadisdamkarmat) KTT Rudi menyampaikan bahwa kejadian terbaru terjadi di Kebun Sayur, Tideng Pale sekitar pukul 13.00 Wita, disusul kebakaran di sekitar pelabuhan feri Sebawang sekitar pukul 15.00 Wita.

“Hari ini ada dua kejadian, masing-masing di Kebun Sayur dan sekitar pelabuhan feri Sebawang,” ujarnya sebagaimana diberitakan Kaltara Pos, Minggu (19/04/2026).

Rudi menjelaskan, kebakaran serupa juga terjadi dalam dua hari sebelumnya di beberapa lokasi berbeda, yakni di belakang Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Sesayap Selor, depan Kepolisian Resor (Polres) KTT di Sebawang, serta di Km 2 Tana Merah Barat, Kecamatan Tana Lia.

“Kebakaran lahan seperti ini membuat tim terpadu kewalahan, terutama Disdamkar karena keterbatasan personel,” jelasnya.

Ia menambahkan, secara tugas pokok dan fungsi (tupoksi), penanganan kebakaran lahan berada di bawah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH). Namun dalam praktiknya, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) tetap turut terlibat karena menjadi pihak pertama yang menerima laporan dari masyarakat.

“Namun pada prinsipnya, siapa yang pertama menerima laporan akan langsung bergerak. Kami juga memiliki peralatan yang memadai untuk membantu penanganan,” ujarnya.

Dalam upaya penanganan, tim terpadu yang terlibat meliputi Disdamkarmat, BPBD, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), serta masyarakat setempat. Koordinasi lintas sektor ini dinilai penting untuk mempercepat pemadaman sekaligus mencegah meluasnya kebakaran.

“Kolaborasi sangat penting, termasuk dengan pemerintah desa. Jika terjadi kebakaran, desa terdekat harus cepat merespons,” katanya.

Rudi juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan sosialisasi ke desa-desa untuk mengaktifkan kembali relawan kebakaran (rekar) guna memperkuat respons awal di tingkat lokal.

Menurutnya, maraknya kebakaran lahan saat ini dipicu oleh meningkatnya aktivitas pembukaan lahan perkebunan, khususnya kelapa sawit, yang memanfaatkan kondisi cuaca panas. “Cuaca ekstrem panas dimanfaatkan masyarakat untuk membuka lahan dengan cara membakar,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa tanpa pengawasan ketat, api dapat dengan cepat meluas, terlebih sebagian besar wilayah KTT merupakan lahan gambut yang sangat mudah terbakar. “Sesuai SOP BPBD, masyarakat yang ingin membakar lahan wajib melapor ke pemerintah desa agar dapat diawasi. Biasanya dibuat sekat untuk mencegah api menyebar,” pungkasnya.

Pemerintah daerah diharapkan memperkuat pengawasan serta edukasi kepada masyarakat guna menekan risiko kebakaran lahan yang berpotensi merusak lingkungan dan mengganggu aktivitas warga. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com