Disdikbud Samarinda meminta orang tua segera melapor agar 16 calon peserta didik yang belum memperoleh sekolah dapat ditempatkan di SMP negeri yang masih memiliki kuota dan berlokasi dekat dengan domisili mereka.
SAMARINDA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda mencatat masih ada 16 calon peserta didik jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang belum memperoleh sekolah setelah pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Mereka akan disalurkan ke sekolah negeri yang masih memiliki daya tampung dengan mempertimbangkan kedekatan lokasi sekolah dan tempat tinggal siswa.
Jumlah tersebut berkurang dari sebelumnya 17 orang setelah satu calon peserta didik berhasil ditempatkan. Disdikbud Samarinda meminta orang tua dari 16 calon peserta didik yang tersisa segera melapor dan menyerahkan data lengkap agar proses penyaluran dapat dilakukan.
Tim Pengawasan (Timwas) SPMB yang dibentuk Wali Kota Samarinda sebelumnya menerima 36 pengaduan dari orang tua calon peserta didik terkait polemik penerimaan siswa SMP negeri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 calon peserta didik kini telah memperoleh sekolah, sedangkan 16 lainnya masih menunggu penempatan.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Disdikbud Samarinda, Mohammad Wahiduddin, mengatakan pihaknya terus berupaya memastikan seluruh calon peserta didik memperoleh akses pendidikan. Namun, proses penempatan membutuhkan laporan dan data lengkap dari orang tua siswa.
“Dari 17 siswa yang sebelumnya belum mendapatkan sekolah, kini tinggal 16 orang karena satu siswa sudah berhasil ditempatkan. Kami meminta kepada orang tua dari 16 siswa tersebut agar segera melapor ke Disdikbud. Kami mengalami kesulitan apabila tidak memiliki data yang lengkap. Jika mereka datang melapor, kami akan segera mendistribusikan ke sekolah yang masih memiliki kuota,” ujar Wahiduddin saat ditemui di Samarinda, Selasa (14/07/2026).
Menurut Wahiduddin, sejumlah sekolah negeri masih mempunyai sisa daya tampung. Peluang memperoleh sekolah tetap terbuka sepanjang orang tua bersedia mengikuti proses penempatan berdasarkan kuota yang tersedia.
Disdikbud Samarinda akan memprioritaskan penempatan calon peserta didik di sekolah yang berlokasi paling dekat dengan domisili mereka. Kebijakan tersebut diterapkan untuk memudahkan akses pendidikan dan mencegah siswa ditempatkan di wilayah yang terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
“Kuota sekolah sebenarnya masih cukup banyak, asalkan yang bersangkutan bersedia ditempatkan sesuai dengan lokasi yang tersedia. Tentu kami akan mempertimbangkan kedekatan dengan tempat tinggal siswa. Misalnya, warga Samarinda Utara tidak mungkin ditempatkan di Loa Janan Ilir jika masih ada pilihan yang lebih dekat. Prinsipnya, kami tetap memprioritaskan sekolah yang lokasinya paling dekat dengan domisili peserta didik,” jelas Wahiduddin.
Ia mengungkapkan, sekolah yang masih memiliki banyak kursi kosong umumnya berada di kawasan pinggiran Samarinda. Kondisi itu terjadi karena sebagian besar orang tua memilih mendaftarkan anaknya ke sekolah yang berada di pusat kota sehingga tingkat persaingan menjadi lebih tinggi.
Sekolah dengan jumlah pendaftar relatif sedikit antara lain berada di wilayah Palaran, Bantuas, dan Sungai Siring. Kekurangan jumlah pendaftar tersebut tidak hanya terjadi pada jenjang SMP, tetapi juga pada jenjang Sekolah Dasar (SD).
“Dalam Pantauan kami sekolah yang masih sepi peminat umumnya berada di wilayah pinggiran, seperti Palaran, Bantuas, dan Sungai Siring. Kondisi ini berlaku untuk jenjang SD maupun SMP. Karena itu, kami berharap masyarakat dapat mempertimbangkan sekolah-sekolah tersebut apabila memang masih tersedia kuota,” tutup Wahiduddin.
Dengan masih tersedianya daya tampung, Disdikbud Samarinda berharap orang tua segera melaporkan calon peserta didik yang belum memperoleh sekolah dan bersedia mempertimbangkan penempatan di sekolah alternatif agar seluruh anak tetap dapat mengikuti pendidikan pada tahun ajaran berjalan. []
Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan