Hutama Karya menyiapkan transformasi tiga tahap, penataan portofolio, pasar hilirisasi, dan proyek KPBU untuk beralih dari pengembang infrastruktur menjadi perusahaan konstruksi berkelanjutan berstandar global.
JAKARTA – Perseroan Terbatas (PT) Hutama Karya (Persero) mengarahkan transformasi bisnisnya untuk tidak lagi sekadar berperan sebagai pengembang infrastruktur, tetapi menjadi perusahaan konstruksi berkelanjutan yang memimpin industri. Perubahan tersebut akan ditempuh melalui penataan portofolio, ekspansi ke pasar hilirisasi, pengembangan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), serta penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Arah baru tersebut menjadi inti Sarasehan Visi Misi Perusahaan yang digelar secara hibrida di HK Tower, Jakarta Timur, Senin (17/08/2026). Forum yang mempertemukan jajaran direksi, Dewan Komisaris, dan karyawan itu sekaligus menjadi momentum perusahaan menyusun langkah strategis setelah periode visi 2020–2025.
Direktur Utama (Dirut) Hutama Karya Koentjoro mengawali kegiatan dengan mengajak seluruh karyawan mendoakan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi, sebagaimana dilansir Hutama karya, Senin, (17/08/2026).
“Sebelum kita berbicara tentang arah perusahaan, izinkan saya mengajak seluruh Insan Hutama Karya menundukkan kepala sejenak bagi saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur. Semoga mereka diberi ketabahan dan proses pemulihan berjalan lancar,” ujar Koentjoro.
Dalam arah transformasi tersebut, Hutama Karya menetapkan visi baru, yakni Leading Sustainable Construction Enterprise and Infrastructure Developer. Visi itu merupakan pengembangan dari arah perusahaan pada periode 2020–2025 dengan tiga perubahan utama, yakni memperluas peran dari pengembang infrastruktur menjadi perusahaan konstruksi berkelanjutan, menggeser posisi dari valuable menjadi leading, serta memasukkan aspek sustainable sebagai bagian dari komitmen terhadap prinsip ESG.
“Perubahan visi dan misi bukan sekadar perubahan kalimat, tetapi penegasan arah strategis Hutama Karya dalam menghadapi tantangan dan peluang ke depan,” ujar Koentjoro.
Visi tersebut kemudian diturunkan ke dalam empat misi perusahaan dan diperkuat melalui identitas baru LEADS CON.ID. Pada sisi bisnis, Hutama Karya merancang transformasi dalam tiga tahapan, yaitu Transform to Global Standard, Global Standard as a Culture, hingga Top of Mind.
Transformasi itu dijalankan melalui tema strategis BRAVE yang memuat Business Resilience, Realigned Portfolio, Accelerated Growth, dan Value Enhancement. Strategi tersebut diarahkan untuk menata kembali portofolio bisnis inti maupun noninti sekaligus membuka ruang pertumbuhan melalui industri hilirisasi dan proyek dengan skema KPBU.
Koentjoro menegaskan perubahan arah perusahaan tidak cukup berhenti pada dokumen visi dan misi. Menurutnya, keberhasilan transformasi sangat bergantung pada kemampuan seluruh karyawan menerjemahkan strategi ke dalam pekerjaan dan target perusahaan.
“Saya berharap seluruh Insan Hutama Karya tidak berhenti pada memahami visi dan misi, tetapi mampu memaknai dan menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata — mulai dari pekerjaan sehari-hari hingga pencapaian sasaran strategis perusahaan,” ucapnya.
Sementara itu, dalam sesi Inspiring Talk, Komisaris Utama (Komut) Hutama Karya Denny Abdi menyoroti besarnya modal yang dimiliki perusahaan untuk meningkatkan perannya dalam pembangunan nasional. Sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor konstruksi, Hutama Karya telah terlibat dalam pembangunan infrastruktur konektivitas dan pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah.
Denny menyebut terdapat tiga capaian yang menjadi fondasi untuk melangkah lebih jauh, yakni kemampuan perusahaan kembali membukukan laba sejak 2023, masuk dalam jajaran 10 BUMN dengan aset terbesar berdasarkan pemeringkatan 2024, serta kepercayaan pemerintah melalui penugasan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera.
“Modal yang kita miliki hari ini menuntut kita berpikir lebih jauh. Hutama Karya harus menjadi beyond construction company, bukan berhenti sebagai perusahaan yang membangun, tetapi perusahaan yang memberi arah,” ujar Denny.
Menurut Denny, transformasi perusahaan juga membutuhkan perubahan dalam budaya kerja. Ia menyampaikan tiga pesan kepemimpinan kepada karyawan, meliputi penerapan prinsip mindfulness dengan pola kerja lebih teratur, menjunjung etika dan kerendahan hati, serta membangun semangat bertumbuh melalui kerja sama dalam menghadapi tantangan.
“Perusahaan besar tidak dibangun oleh kehebatan individu, tetapi oleh konsistensi kolektif. Etika dan kerendahan hati bukan pelengkap, melainkan syarat,” ucapnya.
Selain capaian bisnis dan pembangunan fisik, Denny meminta setiap karyawan melihat pekerjaannya sebagai bagian dari warisan profesional yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Setiap dari kita punya kesempatan meninggalkan legacy. Bukan hanya berupa jalan tol atau gedung yang berdiri, tetapi berupa cara kerja profesional yang pantas diteladani,” ujarnya.
Ia menilai penyelarasan langkah seluruh unsur perusahaan menjadi faktor penting agar perubahan visi dan misi tidak hanya menjadi konsep korporasi, melainkan diwujudkan dalam pencapaian nyata.
“Visi dan misi hanya akan berarti apabila seluruh insan bergerak dalam satu arah dan satu hati. Setiap Insan Hutama Karya adalah bagian penting dari arah besar perusahaan ini,” jelasnya.
Sarasehan tersebut juga menghadirkan sesi tanya jawab langsung antara karyawan dan jajaran direksi serta pemberian apresiasi kepada karyawan berkinerja terbaik. Forum digelar bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).
Melalui arah baru tersebut, Hutama Karya berupaya menyelaraskan transformasi bisnisnya dengan agenda Asta Cita serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, khususnya dalam keberlanjutan pembangunan infrastruktur dan penciptaan lapangan kerja. Transformasi ini sekaligus menjadi upaya perusahaan memperluas peran dari pelaksana pembangunan menuju perusahaan konstruksi yang mampu memberi arah dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi pembangunan nasional. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan