Jumlah peserta KB aktif di Kukar mencapai 88.556 akseptor hingga September 2026, sementara pemerintah menekankan pentingnya KB sebagai bagian dari perencanaan kehidupan keluarga dan pencegahan stunting.
KUTAI KARTANEGARA – Program Keluarga Berencana (KB) dinilai perlu dipahami sebagai proses merencanakan kehidupan keluarga secara menyeluruh, mulai dari menentukan jumlah anak, mempersiapkan tumbuh kembang, hingga menjamin pendidikan dan masa depan mereka. Pemahaman itu dinilai penting seiring meningkatnya jumlah peserta KB aktif di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dari 77.096 akseptor pada 2025 menjadi 88.556 akseptor hingga September 2026.
Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara, Martina Yulianti, mengatakan KB tidak seharusnya dipersempit hanya pada penggunaan alat kontrasepsi. Nomenklatur jabatan tersebut sesuai struktur resmi Sekretariat Daerah Kukar.
“KB itu bukan hanya sekadar menggunakan alat kontrasepsi yang sifatnya hanya aksi sesaat untuk mencegah kehamilan. Maknanya lebih dalam, yaitu bagaimana kita merencanakan kehidupan,” kata Martina saat ditemui di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Rapak Mahang, Jalan Pesut, Kelurahan Timbau, Tenggarong, Jumat (02/10/2026).
Menurut Martina, perencanaan keluarga perlu dimulai ketika pasangan menentukan jumlah anak. Tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada proses kehamilan dan persalinan, tetapi berlanjut pada pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang, pendidikan, hingga mempersiapkan anak agar memiliki bekal ketika memasuki kehidupan dewasa dan dunia kerja.
Dalam konteks tersebut, alat kontrasepsi merupakan salah satu sarana untuk membantu keluarga mengatur kehamilan sesuai perencanaan. Pemahaman mengenai KB, menurut dia, perlu terus diperkuat kepada masyarakat, termasuk generasi milenial dan generasi Z.
Martina menyebut pemerintah telah menyediakan berbagai alat kontrasepsi beserta pelayanan pemasangannya secara gratis. Edukasi dinilai menjadi bagian penting agar masyarakat memperoleh informasi yang tepat sebelum menentukan pilihan dalam merencanakan keluarga.
Perencanaan kehamilan, lanjut Martina, juga berkaitan dengan upaya pencegahan stunting. Keluarga yang merencanakan kehamilan memiliki kesempatan mempersiapkan kebutuhan ibu dan anak, termasuk pemenuhan kebutuhan selama 1.000 hari pertama kehidupan. Periode tersebut menjadi salah satu fokus dalam kebijakan percepatan penurunan stunting pemerintah.
Data yang disampaikan Martina menunjukkan peserta KB aktif di Kukar meningkat 11.460 akseptor, dari 77.096 akseptor pada 2025 menjadi 88.556 akseptor hingga akhir September 2026.
Peningkatan juga terjadi pada peserta KB yang menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Jumlahnya bertambah dari 15.220 akseptor atau 19,74 persen pada 2025 menjadi 19.079 akseptor atau 21,54 persen hingga September 2026. Pada periode yang sama, angka kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi atau unmet need turun dari 4,98 persen menjadi 2,92 persen.
“Jangan berhenti pada angka. Di balik setiap angka akseptor, ada seorang ibu, ada seorang ayah, ada anak-anak, ada sebuah keluarga, dan ada masa depan yang sedang kita persiapkan,” ujar Martina.
Peningkatan kepesertaan tersebut diharapkan berjalan beriringan dengan penguatan edukasi dan kualitas pelayanan sehingga program KB tidak hanya berorientasi pada capaian jumlah akseptor, tetapi juga membantu keluarga merencanakan kehidupan, kesehatan, serta masa depan anak secara lebih baik. [] (ADV)
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan