Orangutan Terluka di Kayong Utara Masih Dicari, Diduga Terkena Jerat

Tim gabungan masih mencari orangutan terluka di Seponti, Kayong Utara, yang diduga terkena jerat dan terdesak akibat menyusutnya habitat hutan.

KAYONG UTARA – Kemunculan orangutan terluka di area persawahan Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara (Kayong Utara), Kalimantan Barat (Kalbar), memperlihatkan semakin terdesaknya habitat satwa dilindungi akibat perubahan kawasan hutan menjadi lahan perkebunan.

Tim gabungan dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dokter hewan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan warga masih melakukan pencarian terhadap orangutan tersebut. Satwa itu diduga mengalami luka serius di bagian kaki kiri akibat jerat.

Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting mengatakan, orangutan itu pertama kali diketahui warga saat berada di area persawahan. Warga kemudian berhasil menggiring satwa tersebut ke pohon kelapa dan pohon mangga.

Orangutan itu sempat membuat sarang di lokasi tersebut. Namun, satwa tersebut turun dan melarikan diri ke hutan kecil di sekitar lokasi pada Selasa 26 Mei 2026, sebagaimana diberitakan Kompas, Jumat (29/05/2026).

Sejak saat itu, tim gabungan bersama warga menyisir sejumlah titik hutan di sekitar aliran Sungai Seponti. Namun, hingga kini keberadaan orangutan tersebut belum ditemukan.

Argitoe menyebut pencarian tidak mudah karena kawasan sekitar lokasi terdiri atas petak-petak hutan kecil yang tersebar. Kondisi itu membuat pergerakan satwa sulit dipantau secara cepat.

“Masih banyak spot hutan kecil, ada yang luasnya sekitar lima hektar, dua hektar, dan ada yang memanjang di sepanjang sungai. Itu yang membuat pencarian cukup sulit,” ujar Argitoe dalam keterangan video, Jumat (29/05/2026).

Berdasarkan informasi warga dan rekaman video yang beredar, luka pada kaki kiri orangutan tersebut cukup parah. Luka itu bahkan disebut sudah memperlihatkan tulang.

Warga sempat menduga luka tersebut disebabkan serangan buaya. Namun, berdasarkan pengalaman tim penyelamat satwa, Argitoe menilai luka itu lebih mengarah pada bekas jerat. “Kalau melihat pengalaman kami, kemungkinan besar terkena jerat, bisa jerat babi atau jerat rusa,” ungkap Argitoe.

Saat ini, tim YIARI bersama dokter hewan dan warga masih bertahan di lapangan untuk melanjutkan pencarian. BKSDA juga telah berkoordinasi dalam upaya penyelamatan satwa dilindungi tersebut.

Jika berhasil ditemukan dan dievakuasi, orangutan itu akan segera dibawa ke pusat rehabilitasi International Animal Rescue (IAR) di Kabupaten Ketapang (Ketapang) untuk mendapatkan penanganan medis.

“Karena ada luka di bagian kaki, tentu harus cepat ditangani. Setelah pulih nanti, orangutan itu akan dikembalikan ke habitat aslinya,” ujar Argitoe.

Argitoe menambahkan, kemunculan orangutan di area persawahan diduga berkaitan dengan menyusutnya kawasan hutan di wilayah tersebut akibat pembukaan lahan perkebunan.

Menurut keterangan warga, orangutan itu sudah beberapa kali terlihat di tepian hutan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi itu mengindikasikan ruang hidup satwa liar di kawasan tersebut semakin terbatas.

“Banyak hutan yang sudah berubah menjadi perkebunan. Saat kami ke lokasi kemarin, masih ada ekskavator yang bekerja membuka lahan,” jelasnya.

Upaya pencarian diharapkan segera membuahkan hasil agar orangutan terluka tersebut dapat ditangani secara medis. Kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya perlindungan habitat satwa liar agar konflik antara manusia dan satwa tidak terus berulang. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com