Perdana Dipamerkan, Batik Kedang Ipil Usung Motif Adat Khas

Batik khas Desa Kedang Ipil Kukar mulai diperkenalkan ke publik dengan mengangkat motif adat lokal dan mulai menarik minat pasar luar daerah.

KUTAI KARTANEGARA — Kelompok perajin batik di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mulai memperkenalkan batik khas daerah dalam pameran perdana yang digelar bertepatan dengan tradisi Nutuk Beham, Jumat (24/04/2026). Produk ini mengangkat motif budaya lokal sebagai upaya pelestarian tradisi sekaligus mendorong ekonomi masyarakat.

Penggerak kelompok batik Kedang Ipil, Rusna, mengatakan seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil karya perajin lokal yang baru memulai produksi dalam tiga bulan terakhir. “Ini perdana kami tampilkan ke publik. Semua dibuat oleh pengrajin Kedang Ipil,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Ia menjelaskan, motif batik yang dihasilkan mengadaptasi unsur budaya setempat, seperti ornamen dedaunan dan simbol adat yang biasa digunakan dalam ritual belian. Kekhasan tersebut menjadi pembeda utama dibanding batik dari daerah lain.

“Kami mengangkat motif khas Kedang Ipil yang biasa dipakai dalam kegiatan adat. Itu yang menjadi ciri utama batik kami,” katanya.

Saat ini, jumlah perajin yang terlibat mencapai sekitar 60 orang, meningkat dari awal pembentukan kelompok yang hanya sekitar 30 orang. Proses produksi batik relatif cepat, dengan satu lembar kain dapat diselesaikan dalam waktu satu hari apabila tidak terkendala bahan maupun peralatan.

Untuk harga, satu lembar kain batik sepanjang dua meter dibanderol sekitar Rp800 ribu. Harga tersebut masih dalam tahap promosi karena produk baru diperkenalkan ke pasar. Bahan yang digunakan berupa kain katun dengan teknik batik tulis.

Meski tergolong baru, batik Kedang Ipil mulai menarik minat pembeli dari luar daerah. “Sudah ada pesanan dari luar, salah satunya dari instansi di Samarinda,” ujar Rusna.

Namun demikian, pengembangan usaha masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan peralatan produksi. Kebutuhan seperti kompor, lilin, dan bahan pewarna masih bergantung pada swadaya kelompok serta dukungan dari pihak adat.

Pemasaran produk saat ini masih dilakukan secara terbatas melalui media sosial dan pameran lokal. Kelompok perajin juga belum mengikuti pameran di luar daerah karena masih berada pada tahap awal pengembangan.

Ke depan, kelompok perajin berharap batik Kedang Ipil dapat berkembang menjadi produk unggulan desa yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus melestarikan budaya lokal. “Kami ingin batik ini tidak hanya dikenal di sini, tetapi juga bisa dikenal lebih luas,” katanya. []

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com