Air Terjun Kendua Raya Jadi Primadona Baru Wisata Kukar

Lonjakan kunjungan wisatawan di Air Terjun Kendua Raya mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Kedang Ipil meski fasilitas masih terbatas.

KUTAI KARTANEGARA – Air Terjun Kendua Raya di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat lonjakan kunjungan wisatawan sepanjang 2026, dengan jumlah pengunjung mencapai ribuan orang setiap bulan dan menjadikannya salah satu destinasi wisata alam yang kian diminati di Kukar.

Bendahara Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedang Ipil, Dewi Karya, mengatakan peningkatan kunjungan terjadi signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menyebut hampir setiap hari wisatawan datang, meski pada hari biasa belum selalu tersedia penjaga di lokasi.

Bendahara Pokdarwis Kedang Ipil, Dewi Karya

“Tahun ini pengunjung cukup meningkat. Hampir setiap hari ada yang datang, meskipun di hari biasa tidak selalu ada penjaga,” ujarnya saat ditemui di Kedang Ipil, Jumat (24/04/2026).

Destinasi ini memiliki dua titik air terjun, yakni Kendua Raya sebagai lokasi utama yang paling banyak dikunjungi, serta Air Terjun Kuntang yang berada di bagian lebih tinggi. Aktivitas wisatawan didominasi oleh kegiatan mandi dan berkemah, terutama saat akhir pekan.

“Kalau yang camping biasanya datang hari Sabtu, lalu menginap dan pulang hari Minggu. Suasananya masih asri dan alami,” kata Dewi.

Dari sisi keamanan, kawasan ini relatif aman untuk wisata air. Namun, pengunjung tetap diimbau berhati-hati karena kondisi bebatuan yang licin. Keasrian lingkungan menjadi daya tarik utama, meskipun fasilitas pendukung masih terbatas.

Dalam satu bulan, jumlah kunjungan dapat mencapai lebih dari 2.000 orang. Sementara pada hari libur, jumlah wisatawan bisa menembus sekitar 1.000 orang. Tiket masuk dipatok sebesar Rp5.000 per orang untuk pejalan kaki dan Rp10.000 bagi pengunjung yang membawa kendaraan bermotor.

Pendapatan dari retribusi tersebut kemudian dialokasikan untuk berbagai kebutuhan pengelolaan wisata. “Sebanyak 10 persen untuk desa, 50 persen untuk Pokdarwis, sisanya untuk operasional seperti parkir, kebersihan, dan air,” ujarnya.

Pengelolaan wisata ini sepenuhnya melibatkan masyarakat lokal, termasuk kalangan pemuda yang sebagian besar masih berstatus pelajar. Keterlibatan ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

Meski mengalami peningkatan kunjungan, pengelola mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama dalam pengembangan fasilitas seperti tempat istirahat dan spot foto. Rencana pengembangan telah disusun, meski belum memiliki jadwal pasti pelaksanaan.

Dewi berharap masyarakat dapat terus mendukung pengembangan potensi wisata desa agar mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi warga.

“Pengembangan wisata ini milik bersama. Perlu dukungan masyarakat agar bisa terus berkembang,” katanya.

Selain dikenal melalui tradisi adat Nutuk Beham, Desa Kedang Ipil kini semakin diperhitungkan sebagai destinasi wisata alam di Kukar yang menawarkan suasana tenang dan alami bagi pengunjung. []

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com