Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai kader HMI harus memiliki daya kritis, wawasan luas, dan kemampuan membaca perubahan global agar mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
PONTIANAK – Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diminta memperkuat daya kritis, kapasitas intelektual, dan kemampuan membaca perubahan global agar mampu mengambil peran strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat menutup Intermediate Training atau Latihan Kader II dan Latihan Khusus Korps HMI-Wati (KOHATI) tingkat nasional HMI Cabang Pontianak 2026 di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Minggu (17/05/2026) malam, sebagaimana dilansir Prokopim, Senin (18/05/2026).
Edi menilai visi Indonesia Emas 2045 tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kesiapan generasi muda dalam menghadapi tekanan ekonomi, ketidakpastian global, perubahan teknologi, serta derasnya arus informasi digital.
“Indonesia Emas 2045 ini terwujud atau tidak, tergantung bagaimana pengelolaan bangsa kita. Kita semua, baik terlibat langsung maupun tidak langsung, punya peran dalam proses menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.
Menurut Edi, tema kegiatan “Resonansi Nalar Khatulistiwa HMI Menuju Indonesia Emas 2045” relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Indonesia, kata dia, sedang menghadapi tekanan ekonomi, dampak perang di Timur Tengah, perubahan harga energi, hingga kenaikan kebutuhan pokok.
Ia mengingatkan, situasi global yang tidak menentu harus disikapi dengan optimisme, tetapi tetap diiringi kewaspadaan. Kekuatan ekonomi nasional menjadi salah satu penentu keberlanjutan agenda pembangunan jangka panjang. Jika tekanan ekonomi membesar, dampaknya dapat dirasakan hingga ke daerah.
Edi juga menyoroti besarnya pengaruh era digital dan media sosial dalam membentuk cara berpikir masyarakat. Arus informasi yang cepat dapat menjadi kekuatan apabila dikelola secara bijak, tetapi juga bisa memicu kegaduhan apabila tidak disertai kemampuan berpikir kritis.
“Kalau kita tidak mampu membaca dan memprediksi keadaan, ini bisa menjadi tantangan,” jelasnya.
Dalam konteks itu, Edi menilai Latihan Kader II dan Latihan Khusus KOHATI menjadi ruang penting untuk membentuk kader HMI yang matang secara intelektual, kritis, dan progresif. Ia berharap peserta pelatihan tidak hanya selesai pada forum pengaderan, tetapi mampu menerjemahkan gagasan dalam kerja nyata di tengah masyarakat.
“Kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas kader seperti ini diharapkan berdampak untuk kebaikan dan kemajuan bangsa kita,” ujarnya.
Edi mengatakan, HMI telah terbukti melahirkan banyak kader yang berkiprah di berbagai sektor, termasuk pemerintahan. Ia menyebut banyak kepala daerah di Indonesia merupakan alumni HMI.
“Kemarin saat retret di Magelang, kami berkumpul dengan alumni HMI. Ada 126 kepala daerah yang alumni HMI. Artinya tidak sia-sia adik-adik berhimpun sebagai kader HMI untuk terus menyiarkan kemajuan,” ujarnya dalam penutupan Intermediate Training atau Latihan Kader II dan Latihan Khusus KOHATI tingkat Nasional HMI Cabang Pontianak 2026 di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Minggu (17/05/2026) malam.
Sebagai kepala daerah, Edi mengaku merasakan langsung bagaimana faktor eksternal, regulasi, keterbatasan anggaran, dan tingginya tuntutan masyarakat memengaruhi kerja pemerintahan. Karena itu, ia menekankan pentingnya kader muda memiliki kemampuan membaca persoalan secara utuh sebelum mengambil peran dalam pembangunan.
Edi juga menilai Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kota Pontianak memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Sektor perkebunan, pertambangan, industri kreatif, dan ekonomi digital perlu dimanfaatkan secara produktif agar peluang pembangunan tidak terlewatkan.
Ia berharap para peserta Latihan Kader II dan Latihan Khusus KOHATI semakin termotivasi berkiprah di berbagai sektor. Menurutnya, perjuangan kader HMI tidak berhenti di ruang pelatihan, melainkan harus dilanjutkan melalui kontribusi konkret bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.
“Perjuangan itu tidak selesai sampai di sini. Kita akan terus berkiprah. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi motivasi dan semangat untuk terus membangun negeri di semua sektor,” katanya.
Edi menambahkan, kekuatan HMI terletak pada militansi kader, jejaring alumni, dan semangat persaudaraan lintas daerah. Ia berharap kekuatan tersebut dapat terus disinergikan dan dikolaborasikan untuk memberi manfaat lebih luas.
“Ini salah satu kekuatan HMI yang sebenarnya bisa kita sinergikan dan kolaborasikan. Alumni HMI sangat kuat, sangat militan, dan selalu punya ikatan emosional,” pungkasnya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan