UMKM Kedang Ipil Tembus Pasar Jawa, Andalkan Potensi Lokal

UMKM Desa Kedang Ipil, Kukar, mengembangkan produk berbasis sumber daya lokal yang mulai menembus pasar luar daerah meski masih menghadapi keterbatasan pemasaran digital.

KUTAI KARTANEGARA – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kukar, terus mengembangkan produk berbasis sumber daya lokal yang kini mulai menembus pasar luar daerah, termasuk Pulau Jawa.

Beragam komoditas unggulan seperti gula aren kristal, beras ladang, madu kelulut, hingga kerajinan tangan diproduksi secara mandiri oleh masyarakat setempat. Produk-produk tersebut menjadi tulang punggung ekonomi warga sekaligus bentuk pemanfaatan potensi alam desa secara berkelanjutan.

Salah satu pelaku UMKM, Yulda, menegaskan seluruh produk yang dipasarkan merupakan hasil produksi warga tanpa melibatkan bahan dari luar daerah. “Semua dibuat di sini oleh orang kampung. Tidak ada produk dari luar,” ujarnya saat ditemui di Kedang Ipil, Jumat (24/04/2026).

Menurutnya, produk yang paling diminati pasar saat ini adalah gula aren kristal dan beras gunung yang berasal dari ladang warga. Selain itu, masyarakat juga memproduksi madu kelulut serta aneka kue tradisional yang memiliki ciri khas lokal.

Di sektor kerajinan, warga Kedang Ipil memanfaatkan bahan alami seperti tanaman hutan dan kayu ulin untuk menghasilkan produk seperti seraung, lanjung, dan anjat. Produk-produk ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga merepresentasikan kearifan lokal masyarakat.

Yulda menyebutkan harga produk kerajinan bervariasi, mulai dari Rp30 ribu hingga Rp55 ribu, tergantung jenis dan ukuran. Sementara itu, produk pangan seperti gula aren kristal memiliki permintaan tinggi dan telah dipasarkan hingga luar daerah.

“Peminat gula aren kristal cukup banyak. Pernah ada pesanan hampir 20 paket yang dikirim ke Jawa,” katanya.

Meski demikian, pemasaran produk UMKM di Kedang Ipil masih menghadapi tantangan, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital. Penjualan masih didominasi metode konvensional, baik secara langsung maupun dari mulut ke mulut, serta terbatas melalui media sosial seperti Facebook.

“Selama ini masih dari mulut ke mulut. Kalau media sosial paling hanya Facebook,” ujarnya.

Selain berjualan di desa, para pelaku UMKM yang tergabung dalam kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di desa lain untuk memperluas jaringan pemasaran.

Produksi dilakukan secara rutin, khususnya untuk gula merah dan produk pangan lainnya. Namun, pengiriman ke luar daerah masih bersifat situasional, menyesuaikan dengan jumlah pesanan yang diterima.

Keberadaan UMKM di Kedang Ipil menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal sekaligus upaya pemberdayaan masyarakat desa berbasis potensi alam. Ke depan, optimalisasi pemasaran digital diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing produk lokal. []

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com