Lembaga pemantau pelayaran menyebut Iran masih memiliki kapasitas besar untuk mengekspor dan menyimpan minyak mentah meski konflik dengan Amerika Serikat terus berlangsung.
JAKARTA – Di tengah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat (AS), Iran dilaporkan masih memiliki kapasitas besar untuk mempertahankan ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz. Lembaga pemantau pelayaran maritim Tanker Trackers memperkirakan masih terdapat puluhan juta barel minyak yang dapat dikirim meski jalur tersebut berada dalam tekanan akibat situasi keamanan.
Menurut Tanker Trackers, Iran telah mengekspor lebih dari 80 juta barel minyak mentah dan produk olahan selama 26 hari terakhir. Nilai pengiriman tersebut diperkirakan mencapai sekitar 6 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp108 triliun dalam kurun empat pekan terakhir.
Kelompok pemantau itu juga menyebut masih terdapat jutaan barel minyak yang belum diberangkatkan dari Iran. Informasi tersebut sebagaimana diwartakan Al Jazeera dan dilansir CNN Indonesia, Selasa (14/07/2026).
“Sekarang blokade Angkatan Laut AS diberlakukan kembali lebih dari sebulan lebih cepat dari jadwal, tampaknya sekitar 30 juta barel minyak mentah Iran masih belum berangkat,” kata Tanker Trackers.
Lembaga tersebut menambahkan Iran juga masih memiliki kapasitas penyimpanan terapung yang cukup besar apabila produksi minyak harus disesuaikan dengan perkembangan situasi.
“Namun, ada juga lebih dari 60 juta barel kapasitas penyimpanan terapung yang tersedia di dalam perimeter blokade jika Iran terpaksa mengurangi produksi minyaknya.”
Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan ekspor minyak Iran belum sepenuhnya terhenti meskipun blokade dan konflik masih berlangsung. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang akan terus memengaruhi pasokan energi global serta dinamika perdagangan minyak internasional dalam beberapa waktu ke depan. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan