Dugaan pemalsuan riset oleh WNI di forum ilmiah internasional viral di media sosial dan memicu kekhawatiran terhadap integritas akademik Indonesia.
JAKARTA – Dugaan praktik pemalsuan riset yang menyeret sejumlah warga negara Indonesia (WNI) di forum ilmiah internasional tengah menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Kasus ini memicu perdebatan luas di kalangan warganet karena dinilai berpotensi merusak reputasi akademik Indonesia di mata dunia.
Informasi tersebut mencuat melalui unggahan di media sosial yang menyebut adanya dugaan manipulasi data penelitian menggunakan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI). “Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli Pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark,” tulis sebuah akun di Threads, sebagaimana diberitakan Detik Inet, Rabu, (26/05/2026).
Klaim tersebut menyebutkan bahwa dugaan pemalsuan riset diduga berkaitan dengan upaya memperoleh grant atau hibah penelitian, termasuk fasilitas perjalanan ke luar negeri. Sejumlah kejanggalan disebut muncul dalam dokumen riset, seperti lokasi penelitian yang tidak lazim—mulai dari Pegunungan Andes hingga Ethiopia—serta perubahan identitas peneliti dalam sejumlah publikasi.
Pakar etika penelitian dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menilai kasus semacam ini, jika terbukti benar, dapat merusak kredibilitas ilmiah nasional dan mengurangi kepercayaan lembaga internasional terhadap peneliti Indonesia. Ia menekankan pentingnya penguatan sistem verifikasi riset serta literasi etika akademik di kalangan peneliti muda.
Di sisi lain, komunitas akademik menyoroti meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan dalam proses penulisan ilmiah yang tidak diimbangi dengan pemahaman etika penelitian. Pengawasan terhadap publikasi ilmiah dinilai perlu diperketat agar tidak terjadi penyalahgunaan teknologi untuk memanipulasi data.
Kasus ini kini menjadi perhatian luas publik dan komunitas ilmiah internasional. Meskipun belum ada pernyataan resmi terkait identitas pihak yang disebut, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya integritas dalam dunia penelitian serta transparansi dalam setiap proses akademik. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan